Senin, 12 Februari 2018

Visi Tuhan Ada Di Dalam Diri Hamba-Nya


Dapatkan visi spiritual yang tepat dari Tuhan, kita harus menyadari bahwa kita hidup disekeliling orang-orang yang diciptakan dengan pemikiran-pemikiran yang berbeda. Jangan memaksakan untuk menyenangkan orang lain. Seseorang belum benar-benar hidup bila mereka harus menyenangkan orang lain, karena mereka sesungguhnya telah mati karena dijajah spiritualnya. Benih kasih Tuhan pada setiap diri hamba di  digersangkan pemikiran yang kerdil.

Kita hidup bukan untuk menyenangkan orang lain. Kita hidup untuk visi  Tuhan yang besar, yang tak terjangkau dengan pemikiran manusia. Mengasihilah untuk Tuhan yang menjaga harapan kita masing-masing. Benih kebahagiaan itu pilihan yang sudah ada didalam diri kita. Jadi kita pun menjadi orang lain bagi orang yang merasa ingin dibahagiakan atau disenangkan, sementara visi Tuhan ditinggalkan, dengan memakai visi manusia yang kerdil dan terbatas oleh pikirannya masing-masing. Ingat kita hidup untuk menjalin keintiman dengan Tuhan, orang-orang sekeliling hanya melengkapi keberadaan satu sama lain sebagai kalifah di bumi.

Jadi mulai sekarang terima apa yang memang menjadi fakta keberadaannya. Sehebat apapun anda di muka bumi ini, entah titisan Taresa, Wisnu, Yessus, entah mampu membangkitkan orang mati dihadapan mereka sekalipun, tetap akan ada orang yang membenci, tidak menyukai pikiran, bahkan apa yang seperti anda ingin. Jangan berekpektasi di hadapan manusia, tapi pergilah pada lembah Tuhan yang ada pada setiap berkat dalam dirimu. Apalagi ketika anda mulai muncul menjadi public figure, membenarkan pepatah lama seiring pohon itu tumbuh besar, samakin pula angin menerpanya. Sayapun belajar di ruang itu Sekarang, agar seiring angin itu datang saya kebal tidak mudah masuk angin. Alias dirusak hati saya oleh mereka yang selalu berlawanan dengan saya tersebut.

Saya menyadari sebagai pamong rasa saya sendiri, saya mengingat visi Tuhan, ketika saya melakukan tirakat dan perenungan DOA, beberapa tahun yang lalu. Saya mendengar getaran dari suara tanpa rupa dari relung saya. Suara itu jelas bukan laki-laki ataupun perempuan namun lebih interpersonal. Ia mengatakan " Kau adalah mahluk perjanjian, dengan penciptamu. Ajarkan kasih-Ku  melalui kasihmu pada sesamamu, sadar dan sabarlah berada dijalan-Ku. Bahkan ketika kau harus menjadi korban, kehilangan nyamanmu, reputasi, harga diri, materi, bahkan hal yang memalukan sekalipun. Karena engkau adalah kekasih-Ku yang sedang kupakai dan kupersiapkan untuk kehadiratan-Ku, tidak ada yang lain sepertimu. " 

Intinya seperti itu suara itu dulu berbahasa jawa, kita lihat dan kupas pesan yang saya bahasakan kedalam bahasa yang lebih universal tersebut. Pro-kontra akan selalu terjadi pada kehidupan kita tapi ketekunan merawat diri di jalan Tuhan adalah pilihan. Tuhan telah menciptakan setiap hamba menjadi kekasih-Nya. Dia mengasihi semua hamba-Nya. Dia menciptakan Tunjung Dhimas dan tak  ada stok lain yang mirip atau cadangan lain. Sama pula Dia menciptakan anda semua dengan stok anda ya anda tak  ada yang sama atau lainnya. Dan itulah anugerah terbesar kita. Yang masing-masing memiliki talenta dan bakat luar biasa. Jadi biarlah kita menjadi korban dan tumbal Tuhan untuk membawa mereka pada jalan mengenal kasih-Nya.  Biarkan mereka menyerang, mengutuk, membenci, mencibir, berbelok jalur, membuat ruang dan berseberangan. Namun tetaplah kita senantiasia mengampuni, mengasihi, mendoakan mereka menuju jalan pencerahannya masing-masing.

Tuhan menginginkan kekasih-Nya belajar dan belajar setia pada hatinya sendiri, mereka pun memiliki jalannya sendiri, kita hanya perlu menegaskan bahwa dalam perbedaan kita tetap saling menjalin hubungan, seperti dalam keluarga ataupun perusahaan kita memiliki penegasan dalam jalin hubungan dan komunikasi, dalam menyelaraskan perbedaan-perbedaan tersebut. Jangan turut menjadi kepahitan namun serahkan diri pada muara kasih yaitu Tuhan atau kealpa Omega dari segala hierarki keberadaan. Tuhan punya rencana dan proyek besar dalam diri kita semua. Dewasa bersama-Nya, memahami keindahan kasih-Nya.  Mungkin mereka yang memusuhimu menganggap jalan pikiranmu keliru, sedang berusaha mengakrabkan diri pada kasih Tuhan yang belum nampak pada pemahamannya. Bersabarlah syafaati mereka waktu Tuhan akan merengkuhnya. Mungkin mereka belum lulus mengasihi manusia jadi Tuhan yang akan menjamah dan menggetarkan dirinya dengan Jalan Tuhan sendiri.

Ingat sekali lagi Tuhan punya proyek dan rencana besar pada setiap hamba-Nya. Tuhan mengerti prioritas pada kita, mana yang harus didahulukan atau diutamakan untuk kita. Jadi bersabarlah dalam setiap keadaan anda. Mungkin kita selalu memutuskan bahwa ini salah, Tuhan tidak adil, dan kita kecewa pada diri, Tuhan, dan kehidupan kita. Pernah kita melakukan niat baik menolong seseorang, tapi malah diri kita lebih buruk dari seseorang yang kita tolong, anak kita hancur sekolahnya, masalah keluarga justru menimpa kita. Lalu segera wabah "kekecewaan" menyerang diri kita.  Tenanglah, bersabarlah Tuhan belum kelar dalam menyelesaikan proyek dan rencana-Nya pada anda.

Pernah saya menjadi saksi Tuhan mengajarkan saya lewat apa yang saya lihat, saya pernah menghadiri acara pameran lukisan di Surabaya, pada saat itu saya memandangi salah seorang pelukis melukis dengan melemparkan kuas cat pada kanvas yang seakan dilakukan secara tidak teratur dan terkesan asal-asalan. Lalu kanvas itu tampak lebih buruk dari kaidah lukisan biasanya. Segera pikiran saya memutuskan menghakimi pelukis itu, " Ah, apaan ini? Anak kecilpun bisa melakukannya, ini hanya corat-coret awuran, saya pun bisa melakukannya. "

Namun tak lama saya mencoba menunggunya beberapa saat sampai pelukis tersebut menyelesaikannya. Karena rasa penasaran saya. Selang beberapa waktu saya tercengang waow ...amazing..., ternyata lukisan itu berakhir dengan sempurna seekor leopard yang bersandar diatas dahan pohon. Dengan tata artistiknya yang menakjubkan. Ditangan seorang ahli atau maestro sebuah project berakhir sempurna dan menakjubkan. Tidak seperti saya yang amatiran. Ternyata penyimpulan saya pada awalnya salah besar, jugde saya di awal coretan meninggalkan sesal dan malu pada pelukis tersebut.

Begitulah Tuhan, kita jangan buru-buru menyimpulkan pada Tuhan bahwa Dia tidak adil, kecewa dengan permulaan project, atau puzle-puzle yang direncanakan-Nya pada kita. Yang mungkin dengan mudah kita tebak-tebak. Namun rencana Tuhan lebih luas dan besar dari pikiran kita. Ingat Tuhan belum kelar menyelesaikan lukisan-Nya pada kita. Tuhan kita adalah Pelukis Agung, kita adalah kanvasnya, dan kisah kehidupan adalah media alat pewarnanya.  Jadi, temukan visi Tuhan. Setia pada jalan-Nya, tekun mengelola diri di hadapan-Nya.

Kata "Tuhan" bukan serta merta delusi ataupun ilusi bila kita menyadari bahwa diri kitalah saksi akan keberadaannya yang meminjam tubuh dan keseluruhan dari kita sebagai manusia. Tak perlu memperdebatkan hukum teologi, okultisme, jawasentrisme, atheisme. No...no...!! Just be patient, and do anything, prove way to your life. We are face and shape from what do you call with "GURU SEJATI" or "GOD".

~ Tunjung Dhimas

Senin, 22 Januari 2018

Nafsu Kebaikan

Ah siapa bilang kebaikan itu tidak dilaksanakan atas nama nafsu. Siapa bilang bahwa nafsu itu selalu jauh-jauh dari kebaikan. Buktinya toh ada yang namanya nafsu kebaikan. Yaitu nafsu untuk berbuat baik. Nafsu untuk terus-menerus berbuat baik dan harus berbuat baik. Sampai pada akhirnya terjerumus pada paradigma bahwa hidup itu harus selalu berbuat baik. Lupa bahwasanya Tuhan menciptakan dua hal yang selalu berdampingan yaitu baik dan buruk, terang dan kegelapan. Lupa bahwa esensi menjalani kehidupan itu adalah untuk memperindah dunia. Itulah kenapa manusia jadi Khalifah di bumi. Itulah kenapa keyakinan dalam berTuhan itu selalu bermuara pada segala perilaku yang rahmatallil'alamin.

Sekarang pertanyaannya adalah jika kebaikanmu itu diselubungi nafsu lalu apakabar nilainya? Apakabar esensi hidup berkeTuhananmu? Jika berkeTuhanan hanya untuk mempersempit pandangan bahwa yang ini benar dan yang itu salah maka anak TK pun bisa membedakan bahwa ini gelap dan ini terang. Jika berkeTuhanan namun dengan nafsu kebaikan maka sudah dijamin bahwa tidak akan bisa membawa maslahat bagi umat lebih-lebih mau jadi rahmatallil'alamin. Ibarat orang berpendidikan idealnya adalah semakin tinggi pendidikannya maka ia akan semakin terbuka pandangannya, makin bijaksana. Lalu buat apa jika makin dalam berkeTuhanan namun terjerumus pada sudut pandang yang makin menyempit? Tidakkah seharusnya semakin faham dan semakin dalam ilmu itu akan dapat diaplikasikan ke berbagai macam hal? Menjadi fleksibel, mampu mengayomi dan menjadi rahmatallil'alamin tadi?

Bukankah seorang sarjana kuliner yang faham akan seluk beluk pangan dan citarasa masakan Nusantara akan mampu mengembangkan produk untuk lebih berdaya guna? Mengembangkan berbagai inovasi agar dapat bermanfaat bagi khalayak ramai? Bukan lantas membatasi bahwa Ayam Gegape itu hanya untuk makanan orang Makasar dan bukan untuk orang diluar Makasar. Harusnya sarjana kuliner itu mampu mengolah Ayam Gegape dengan berbagai inovasi agar juga bisa diterima di lidah orang lain diluar orang Makasar. Itu baru namanya rahmatallil'almin.

Sepertiitulah harusnya berkeTuhanan. Tidak lagi dengan satu pandangan yang lantas mempersempit pemikiran. Karena semakin berketuhanan harusnya bisa makin bijak, makin mengembangkan pemahamannya dalam kebaikan bukan malah terjerat nafsu dibalik kebaikan. Bahwasanya semua bisa berjalan dengan harmonis, luwes dan bijaksana. Kecuali kalau memang nafsu kebaikan yang jadi tumpuan pemahaman dalam kehidupan berkeTuhanan.

Surabaya, 22 Januari 2018
~ Saila Atmaredja

Prayer Warrior

Aku hadir di bumi bukan karena dikutuk Sang Gembalaku, aku hadir karena ingin belajar mengenal neraka gravitasi kehidupan mahluk bernyawa. Neraka itu hadir berupa siksaan batin. Daur ulang campuran hasrat melekati yang gagal. Kesedihan, ketakutan, kekalutan, rasa sakit, adalah neraka mahluk bernyawa dan berakal sepertiku sekarang. Lebih mengerikan dari geliat api yang menyala-nyala.

Semenjak darah menjadi saksi kehadiranku di bumi ini, aku selalu bertarung dengan akal dan batin untuk bertahan dalam proses perumbuhanku menuju kematian sesuatu yang bergerak dan menggerakanku di dalam diri yang selalu dibawanya kesana kemari menjelajah hutan sebab akibat yang luas tanpa berlandas di bawah atap langit ini.

Neraka yang sering menggetarkanku sendiri rupanya ketidaktahuanku sendiri, yang sering menjatuhkan diri pada belas kasih dan keluh kesah. Aku lupa untuk mengasihi, batinku gelap gulita cahaya hanya memantul di kedua bola mataku saja. Tidak sampai sumsum dan kerongkonganku. Iblis telah kulahirkan dari kegelapan tersebut. Mereka bertepuk tangan meriah menyaksikan ketersesatan dan kebutaan manusia fana sepertiku.

Lalu kupejamkan mataku sejenak, kusapakan diri pada semilir angin yang berhembus lembut menghidupiku. Kukatakan "Gembalaku aku memanggil-Mu, saat kematian itu hadir tapi aku percaya Engkau selalu hidup di kedalaman tubuhku. Wahai air kehidupan tumbuh mengalirlah dalam sela-sela tubuhku yang kekeringan ini. Tumbuhkan pohon-pohon harapanku agar berbuah lebat kesukacitaan yang menjadi ladang surga yang teduh dan rindang, yang menjadi rumah dari setiap mahluk abadi ciptaan-Mu."

Kubuka mata kurasakan seluruh tubuhku telah diambil alih Gembalaku Dia adalah Tuhan. Dia adalah air kehidupan yang menanamkan bibit kasih kesukacitaan. Neraka kuperangi. Kusiangi seperti hama dan rerumputan yang mengeroposi ladang padi surgaku.  Aku bangkit dan segera memanen kesukacitaanku. Aku dibekali sabit dan cangkul berbentuk Iman dan doa-doa, aku petani ladang kesukacitaan dalam diriku sendiri kuperangi hama yang membuahkan neraka itu. Heii panggil aku si Prayer Warrior....

~ Tunjung Dhimas

Rabu, 17 Januari 2018

Situasi-kondisi Membujuk Anda Hanya Untuk Bertahan Hidup, Tapi Saya ingin Membujuk Anda untuk Tumbuh dan Berkembang

Saya pernah mengalami hal  sama seperti sebagian orang yang lupa dan tidak menyadari bahwa situasi-kondisi sering mengitimidasi kita untuk berhenti (menyerah) melalui pikiran. Beberapa orang terkunci dalam mentalitas bertahan hidup bukannya mentalitas berkembang. Mereka menyaksikan begitu banyak laporan berita yang buruk sehingga memutuskan: "itu buruk. Bagaimana mungkin aku akan berhasil?, aku tak  berbakat, aku tak punya cukup uang, ibuku sakit-sakitan, berat rasanya."

Sama seperti anda dapat dibujuk untuk bertahan hidup, saya ingin membujuk anda untuk berkembang. Saya menyadari bahwa kita perlu menggunakan hikmat pada apa  yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Tetapi saya tidak percaya bahwa kita sebaiknya menahan diri di tempat dimana kita tidak mengejar impian kita lagi sehingga kita tidak mengharapkan peningkatan atau berkat kemurahan. Saya kira kita seharusnya tidak menahan diri, atau mencoba untuk menjaga keadaan yang sekarang. Itu adalah mentalitas bertahan hidup saja.

Ingatlah bahwa anda punya muara harapan dan rumah batin yang sering kita panggil Tuhan. Dia adalah keajaiban yang pernah ada. Dia menjelma anda, melipat gandakan apa yang anda miliki. Dia menolong anda setiap hari memampukan anda menyelesaikan masalah dan menjalani jalan takdir anda masing-masing. Dia memberikan rejeki penuh pada anda, mungkin tidak harus berbentuk materi, mungkin berupa bakat kita, kita di ketemukan orang-orang berbakat, teman-teman yang berpotensi, orang-orang yang hangat dan menyayangi. Kita sering tidak menyadarinya karena terfokus dengan satu bagian dari puzzle situasi-kondisi saja. Seperti tidak punya cukup uang, kisah cinta yang gagal dan lainnya.

Kita menjalani hidup dengan keseluruhan kumpulan puzzle-puzzle kehidupan, yaitu serangkaian gambar kisah yang ditulis dan dilukiskan Tuhan. Jadi Tuhan lebih mengerti rencana besar untuk kita. Jangan kawatir. Tuhan memegang kendall penuh. Jika keadaan menjadi sulit, jangan meringkuk dan berpikir, " Aduh, ini begitu buruk. Jika saja aku dapat bertahan dan melewatinya setahun lagi...."

Tidak, hirup nafas dan hentakkan kaki anda kuat-kuat ke tanah dan katakanlah, " aku tidak hanya bertahan hidup. Aku akan berkembang. Aku akan berhasil walaupun situasi-kondisi memperlihatkan kesulitan ini."
Seorang teman wanita saya memberitahukan saya bahwa ia kemelut dan bergumul dalam pernikahannya selama bertahun-tahun. Ia telah melakukan yang terbaik untuk bertahan, tetapi itu tidak  berhasil. Ia berkata pada saya, " Tunjung, yah, setidaknya aku bertahan hidup walau kisahku dan Suami seperti ini." Ia senang dapat melewatinya, tetapi saya dapat mengetahui bahwa dia sudah tidak berdaya lagi, kehilangan dirinya, kehilang spirit kehidupannya. Ia adalah seorang wanita muda yang cantik, tetapi ia kehilangan semangat hidupnya. Saya melihat dia kehilangan cahaya di matanya.

Saya memberitahukan pada anda: anda dapat melewatinya tetapi anda tidak dapat menyimpan mentalitas bertahan hidup saja. Tuhan menyediakan masa yang baru di depan anda. Ia telah menyediakan pintu-pintu keajaiban baru yang akan dibuka-Nya. Ia ingin Puzzle  anda berikutnya lebih baik dari puzzle kehidupan sebelumnya. Mentalitas bertahan hidup saja akan mencegah anda mencapai yang terbaik dari Tuhan. Kebaskanlah itu dan katakanlah, " Tuhan, Engkau berjanji melalui seluruh jiwa ragaku bahwa apa  yang dimaksudkan untuk membahayakanku, kesulitanku, akan Engkau gunakan untuk kebaikanku. Aku mungkin telah melewati api, melewati kelaparan, melewati banjir kemlaratan batin, tetapi aku tahu bahwa inilah waktuku untuk kemurahan dan keajaiban-Mu atas aku. Inilah waktuku menyaksikan kebesaran-Mu yang lebih besar lagi melebihi daya tampung perkiraan pikiranku yang terbatas, aku tahu rencanamu lebih besar atas hidupku."

Jagalah Iman anda tetap tumbuh dan berbuah dan menjadi obat hati dan jiwa anda semua.  Saya ingin anda mulai menantikan Tuhan untuk meningkatkan anda dalam cara yang lebih besar lagi. Mulaikan menantikan tahun ini untuk menjadi tahun anda yang terbaik sejauh ini!.

Saya memiliki pengalaman untuk merawat dan menumbuhkan Iman anda agar berbuah lebat dan subur, menjaga suka-cita anda, dan mengobati duka lara anda, ini pernyataan pengalaman saya:

1. Berdoalah katakan hal positif setiap harinya dalam kehidupan anda.
2. Hargai diri anda, karena dia salah satunya perangkat yang paling anda butuhkan dalam hidup anda. Hadiahi diri anda dengan reward seperti meluangkan waktu rekreasi dan having good moment.
3. Perbanyaklah tersenyum, di setiap moment.
4. Berkumpulah dengan orang-orang positif, mendukung anda, sevibrasi dalam pikiran dan perasaan.
5. Peduli dengan sesama mahluk, tumbuhan, hewan, dan manusia. Blessing mereka setiap saat. Bila dengan manusia luangkan waktu mengafirmasi positif pada mereka misal pada orang-orang yang anda kenal dan anda cintai dahulu. Jangan sungkan mengirimkan pesan tentang blessing. Misal dipagi hari ," selamat pagi, hari ini kamu baik-baik ya, diberkati, penuh energi, dan bahagia".

(Tunjung Dhimas Bintoro)

.....................................................................

Situasi-kondisi mengatakan bertahan hidup  untuk menggapai kebahagiaan, tapi saya mengatakan ciptakan kekuatanmu dan berkembanglah maka kebahagiaan akan berbuah lebat dari dalam dirimu.

~ Tunjung Dhimas
................................. ..................................

Senin, 15 Januari 2018

Orang Lain Mempunyai Hak Atas Pendapatnya, Tapi Kita Punya Hak Untuk Mengabaikannya

Saya pernah mempunyai seorang kawan wanita, dia bercerita pada saya tentang salah seorang kerabat suaminya yang berpendirian sangat keras. Ia selalu memberikan komentar yang tajam dan merendahkan kepadanya. Pasangan ini belum lama menikah. Setiap kali mereka pergi  ke pertemuan-pertemuan keluarga, kerabat ini akan mengatakan sesuatu untuk menghinanya. Ia akan menjadi sangat marah dan hal itu akan merusak harinya. Ia mencapai titik di mana ia menolak untuk pergi ke pertemuan-pertemuan keluarga. Akhirnya, ia memberitahukan suaminya, "Kamu harus melakukan tindakan kepada orang itu, Ia adalah kerabatmu."

Ia mengharapkan suaminya mengatakan, "Kamu benar, sayang. Ia  seharusnya tidak berbicara seperti itu kepadamu. Aku akan membuat urusan dengannya. Namun sebaliknya suaminya berkata," Sayang, aku mencintaimu tetapi kamu tahu Ia dapat mengatakan apapun yang dia inginkan, tetapi kamu mempunyai hak untuk tidak merasa terhina." Pada mulanya Ia tidak dapat memahami mengapa suaminya tidak mau benar-benar membelanya. Berkali-kali itu membuatnya marah. Jika kerabat tersebut ada dalam satu ruangan dengannya, Ia akan pergi ke ruangan lain. Jika orang tersebut pergi ke luar, ia akan memastikan untuk tetap tinggal di dalam rumah. Ia selalu terfokus untuk menghindari orang ini.

Suatu hari ia menyadari bahwa ia sedang membuang kekuatannya. Itu sama seperti sebuah lampu yang tiba-tiba menyala dalam pikirannya. Ia mengizinkan satu orang yang bermasalah untuk menjaga dirinya dari seseorang yang ditakdirkan Tuhan. Jika anda mengizinkan apa yang dikatakan atau dilakukan orang lain membuat anda marah, anda sedang mengizinkan mereka untuk mengendalikan anda. Jika anda berkata, " Kamu membuatku sangat marah." Yang anda lakukan sebenarnya adalah mengakui bahwa anda sedang membuang kekuatan anda.

Selama orang tersebut tahu bahwa ia dapat menekan tombol tersebut supaya anda menanggapi seperti itu, anda sedang memberikan kepadanya tepat seperti yang diinginkanya. Orang lain mempunyai hak untuk mengatakan apa yang mereka inginkan, melakukan  apa yang mereka inginkan, selama itu tidak melanggar hukum. Tetapi kita mempunyai hak untuk tidak merasa terhina. Kita mempunyai hak untuk mengabaikannya. Tetapi jika menjadi kecewa dan marah, kita berubah. Yang sedang terjadi bahwa kita sedang memberikan terlalu banyak perhatian pada apa  yang mereka pikirkan/ sangkakan pada kita. Apa yang mereka katakan tentang kita tidak mendefinisikan siapa kita sebenarnya. Karena yang mengerti diri kita adalah diri kita sendiri dan Sang Tuhan.

Pendapat mereka tentang kita tidak menentukan harga diri kita. Biarlah itu memantul dari kita seperti sesuatu yang tidak dapat menempel dalam kehidupan kita. Mereka mempunyai hak untuk mempunyai pendapat mereka sendiri, dan kita mempunyai hak untuk mengabaikannya.

( Tunjung Dhimas Bintoro )
.......... ....,..............................................

Seseorang mempunyai hak untuk mempunyai  pendapatnya sendiri tentang apapun yang dipikirkannya tentang anda, tetapi anda mempunyai hak untuk mengabaikannya.

~ Tunjung Dhimas


Minggu, 14 Januari 2018

Anda Adalah Keajaiban Dari Jutaan Kelahiran

Anda adalah orang yang unik. Anda adalah suatu karya besar. Anda adalah keajaiban yang berharga. Saat pagi membangunkan anda dan memandang ke dalam cermin, daripada merasa depresi, dari pada mengatakan, " Ya, ampun. Lihatlah betapa tuanya aku. Lihatlah rambut uban ini. Lihatlah keriput-keriput ini", Anda perlu tersenyum dan berkata", Selamat pagi, kamu orang yang cantik. Selamat pagi, kamu orang yang tampan. Selamat pagi, sahabat Tuhan Yang Maha Tinggi, yang diberkati, makmur, sejahtera, berhasil, kuat, semangat, berbakat, kreatif, percaya diri, yang merasa aman, disiplin, terfokus, dan sangat dikenan. "Masuklah ke dalam hati anda. Ucapkan dengan seksama.

Memang mudah membujuk diri sendiri untuk  terjatuh dan tidak melanjutkan impian serta tujuan anda. Terlalu banyak orang bersedia menerima keadaan yang biasa-biasa saja. Tetapi kabar baiknya adalah bahwa Tuhan tidak pernah menggugurkan  suatu impian. Kita mungkin sudah melepaskannya. Kita mungkin sudah berhenti mengejar kesempatan yang baru, berhenti percaya bahwa kita akan mengatasi suatu rintangan. Tetapi Tuhan masih bermaksud mewujudkan setiap impian, setiap janji, yang ditaruh-Nya dalam hati anda.

Anda mungkin telah menunda-nunda untuk mengambil langkah pertama selama seminggu, setahun, atau dua puluh lima  tahun, tetapi Tuhan mengatakan, " Belum terlambat untuk memulai." Anda masih dapat menjadi sesuatu yang Tuhan rencanakan untuk  anda. Tetapi anda harus melakukan bagian anda dan pindah dari hal-hal yang menjemukan. Anda tidak  terlalu tua atau terlalu muda. Anda belum kehilangan jendela kesempatan anda. Impian itu masih hidup dalam hati anda.

Sekarang berkatalah " Aku telah membiarkan alasan-alasan yang menahanku cukup lama. Tetapi hari ini, aku akan mengambil langkah Iman untuk mengejar kesempatan-kesempatan yang baru, menyelidiki kegemaran yang baru, mematahkan kebiasaan yang buruk, menyingkirkan cara berpikir yang salah. Aku tahu bahwa belum terlambat untuk mencapai segala sesuatu yang telah ditaruh Tuhan dalam hatiku.

Anda tidak akan lebih mirip Tuhan dibandingkan saat anda menolong orang-orang yang sedang menderita. Salah satu tugas kita dalam hidup adalah menolong orang menghapus air matanya. Apakah anda peka terhadap kebutuhan orang-orang di sekitar anda? Teman-teman anda? Tetangga-tetangga anda? Rekan-rekan kerja anda? Sering dibalik senyum yang manis, di balik pujian hari-hari yang cerah, ada orang yang sedang jatuh menderita. Ia merasa kesepian. Kehidupannya sedang kacau. Saat seorang sedang bergulat dan bergumul batinnya, jangkaulah dia. Jadilah seorang penyembuh. Jadilah seorang pemulih. Ambillah waktu untuk menghapuskan air matanya.

Tugas anda bukanlah untuk menghakimi. Tugas anda bukanlah untuk mencari tahu jika seorang layak mendapatkan sesuatu, atau memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Tugas anda adalah mengangkat orang yang jatuh, memulihkan orang yang remuk, dan menyembuhkan luka orang yang menderita. Terlalu sering kita menjadi terfokus pada tujuan kita sendiri, impian kita sendiri, dan bagaimana kita dapat memperoleh mukjizat.

Tetapi saya pernah belajar tentang sesuatu yang lebih penting lagi: saya dapat menjadi mukjizat orang lain. Percayalah ada keajaiban, ada kesembuhan dalam tangan anda. Ada kesembuhan dalam suara anda. Anda adalah wadah yang dipenuhi Tuhan. Sekarang juga anda penuh dengan dorongan semangat, penuh dengan kemurahan, penuh dengan pemulihan, penuh dengan kesembuhan. Ke mana pun anda pergi anda seharusnya menyalurkan kemukjizatan dan kebaikan Tuhan. Anda mungkin telah membuat kesalahan tetapi saya akan memberitahukan anda: Kemurahan Tuhan lebih besar dari kesalahan apapun yang telah anda buat. Anda mungkin telah menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam kehidupan anda dengan membuat pilihan yang buruk, tetapi saya akan memberitahukan anda bahwa Tuhan masih mempunyai cara untuk membawa anda ke tujuan akhir anda.

Anda mungkin menderita kecanduan sejak anda masih remaj
a. Tetapi saya akan memberitahukan anda bahwa kuasa Tuhan Yang Mahatinggi dapat mematahkan kecanduan apapun dan membebaskan anda. Itulah yang dimaksudkan dengan menyalurkan kebaikan. Anda mengangkat orang yang jatuh. Anda mendorong semangat orang yang putus asa. Anda meluangkan waktu untuk menghapuskan air mata.

Kadang-kadang anda mungkin harus bertukar tempat dengan orang yang sedang menderita itu. Anda harus mau merasa tidak nyaman. Anda mungkin harus kehilangan waktu makan malam untuk dapat menghapus  air mata. Anda mungkin harus bolos berolahraga satu malam untuk dapat  mendorong semangat pasangan suami istri yang sedang bergumul. Anda mungkin harus mengendarai  mobil  ke bagian kota yang lain dan menjemput seorang teman, rekan kerja, saudara, atau siapapun yang kecanduan baper dan bergumul batinnya. Membawanya pergi ke tempat-tempat nyaman. Jika anda ingin hidup sebagai sahabat Tuhan, anda harus mau  berganti tempat dengan orang-orang yang sedang menderita.

(Tunjung Dhimas Bintoro)
…....................................................................

Tahukah anda, selalu ada yang lupa dirinya lalu mengolok-olok Tuhan. Padahal, tanpa Tuhan tak ada napas, tak ada tubuh, tak ada kita.

~ Tunjung Dhimas
…..........…...................  .........  ..........  ..........

Jika kita merasa telah berada pada titik terakhir saat segala usaha apapun sudah dilakukan, maka ketahuilah perubahan besar akan dimulai.

~ Tunjung Dhimas
.................  .........  ................ .......................

Sabtu, 13 Januari 2018

Manusia adalah Rumah segala Ketumpah- ruwahan Semesta

"Kabeh mau mung ngenteni "saat/waktu" iku lungguh sak tibo alange, saat nalikane dadi peteng utawa padang, marga mangelingi yen titah iku kedunungan sifat keliru lan bener ing antaraning segoro minang kolbu". (Sunan Bonang) suluk dikutip ; R.M. Imam Koesoepangat (Guru Besar Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate).

Tidak ada perihal yang mengacu pada satu titik dimana kebenaran itu berhenti mutlak selama manusia menjadi mahluk sosial. Berpikir adalah ciri khas yang dimiliki homo sapiens ini. Seakan manusia menjadi mahluk yang menjadi Wakil Tuhan dengan organ spesial yang dimilikinya tersebut yaitu otak. Beberapa sel dalam otak yang menampung segala proyeksi semesta kemudian di jadikan pesan yang dituangkan menjadi ilmu pengetahuan.

Kemudian perangkat kedua yang lebih spesial  adalah lokus "qolbu" atau hati yang berada di pineal gland, yang merupakan saluran dimana proses kelistrikan canggih teknologi semesta di upgrade-kan pada diri manusia. Dimana lokus ini memiliki kemampuan untuk menangkap segala keseluruhan semesta meliputi wilayah pararel yang lebih kompleks Dan luas hingga melampaui batas linieritas yang dimiliki di otak. Menurut Maclin (2008) Otak hanya mampu menangkap data dari daya cerap panca inderawi semata, sementara panca inderawi sendiri memiliki tingkat error lebih tinggi, yang dipengaruhi lingkungan (gravitasi bumi). Misal telinga dan mata memiliki ketajaman pendengaran dan penglihatan dari beberapa jarak tertentu saja.

Disinilah yang membuat silang sengkarut sistem semesta yang dikelola manusia sebagai semesta kecil. Otak lah yang menjadi tedensi atas segala resiko dalam perjalanan kehidupan manusia termasuk resiko terburuk sekalipun. Otak memiliki result yaitu pikiran, pikiran turut mengambil alih hampir Dari keseluruhan mekanisme mekanika/ gerak pada tubuh manusia. Pikiran adalah Medan perang, pikiran merusak sistem linier manusia   melalui lingkungan (Meyer, 2004).

Pikiran yang melahirkan peperangan (konflik). Kekeliruan yang mendasari pikiran adalah mekanisme sistem semesta yang memisahkan antara gelap-terang, benar-salah, baik-buruk, dan segala bentuk dualisme. Sunaryo menyatakan  bahwa "pola pikir yang akan menentukan hidup manusia akan berjalan mudah atau sulit". Kemudian disempurnakan oleh Sigmund Freud " mindset seseorang menjadi penentu awal apakah mereka mampu mengarungi kehidupan dengan berat atau mudah". Mungkin ini alasan mengapa sebagian wilayah agama menjelaskan bahwa takdir manusia bisa berubah kala dirinya sendiri berusaha untuk merubahnya. Penulis mengansumsikan bahwa takdir itu adalah tampungan pola pikir manusia yang beragam jenis bentuknya.

Sub- sub kebenaran yang menjadi pengetahuan merupakan result dari "pemahaman" manusia yang mampu mengurai segala bentuk-bentuk ketiadaan-keberadaan menjadi konsep-konsep pemikiran yang melahirkan teori implisit. Namun tetap saja memiliki kelemahannya sendiri karena sistem alam terus bergerak. Tetap saja melahirkan aksi-reaksi; sebab-akibat. Jika ada diantara mereka manusia menjadi tokoh diatas dan menemukan kesuksesannya pasti ada pengkritisinya yang selalu berlawanan. Disaat sedang meninggi tentunya sub-dibawahnya akan menariknya ke bawah sebagaimana hukum gravitasi bekerja. Namun inilah keseimbangan sistem semesta yang nyata adanya.

Dalam kajian filsafati, ilmu filsafat mencoba menampung  keberagaman manusia menjadi beberapa jenis berdasarkan watak-karakter manusia sesuai anagram (Sigmund Freud, Ibnu Sina, dan Aristoteles dalam; Rusli Lutan).
Sebagai berikut:

Manusia Sebagai Homo Educandum

Manusia adalah makhluk yang memerlukan pendidikan atau “homo educandum “. Manusia dipandang sebagai homo educandum yaitu makhluk yang harus dididik, oleh karena menurut aspek ini nanusia dikategorikan sebagai “animal educabil ” yang sebangsa binatang yang dapat dididik, sedangkan binatang selain manusia hanya dapat dilakukan dressur (latihan) sehingga dapat mengerjakan sesuatu yang sifatnya statis (tidak berubah).

Perlunya manusia untuk dididik menurut saya terlebih dahulu harus dilihat dari dua segi aspek pendidikan sebagai berikut: “Pertama dari segi pandangan masyarakat dan kedua dari segi pandangan individu. Dari segi pandangan masyarakat pendidikan berarti pewarisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda, agar hidup masyarakat itu tetap berkelanjutan. Atau dengan kata lain, masyarakat mempunyai nilai-nilai budaya yang ingin disalurkan dari generasi ke generasi agar identitas masyarakat tersebut tetap terpelihara”. Dari segi pandangan individu, pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi yang terpendam dan tersembunyi. Seperti potensi akal, potensi berbahasa, potensi agama dan sebagainya. Potensi-potensi tersebut harus diusahakan dan dikembangkan agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya.
Dilihat dari kedua sudut pandangan tersebut di atas, maka manusia perlu sekali diberi pendidikan, karena tanpa pendidikan pewarisan kebudayaan dan pengembangan potensi manusia tak dapat dilakukan dengan sepenuhnya. Di dalam kitab suci Al-qur’an manusia disebut sebagai ahsanu taqwim, yang berarti sebaik-baik bentuk, dan diantara makhluk Tuhan memang manusialah yang paling baik kejadiannya. Terutama yang paling penting bagi manusia yang membedakannya dengan binatang adalah bahwa manusia mempunyai akal.

Berpikir merupakan suatu potensi vital yang dimiliki manusia. Manusia sebagai homo sapien, Animal Symbolicum, Animal Rationale, dan sebagai Hayawatunatiq. Potensi manusia yang dibawa sejak lahir adalah “akal” yang menjadi dasar pokok bagi pengembangan “Needs for Achievement”.
Contohnya: para ahli psikologi menafsirkan bahwa tingkah laku menangis sang bayi pada saat lahir dan dilahirkan ke bumi ini dihubungkan dengan potensi akal dan arah pengembangan. Contoh lainnya; setiap waktu kita mengerjakan kewajiban seperti shalat lima waktu tapi justru shalat itu, belum mampu membendung tingkah laku seseorang untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan a moral atau perbuatan yang melanggar aturan Tuhan. Sehingga nilai shalat tadi yang dikerjakan tidak lebih dari praktek ritual semata. Prilaku manusia yang berakal hilang dengan pengaruh nafsu, nafsu lebih  menguasai akal manusia, yang seharusnya akal mengontrol nafsu itu.

Manusia sebagai HOMO SAPIENS :

Homo SAPIENS adalah mahluk yang berpikir sehingga merupakan mahluk yang cerdas dan bijaksana. Dengan daya pikirnya manusia dapat berpikir apakah yang sebaiknya dilakukan pada masa sekarang atau masa yang akan datang berdasar kan pertimbangan masa lalu yang merupakan pengalaman. Pemikiran yang sifatnya abstrak merupakan salah satu wujud budaya manusia yang kemudian diikuti wujud budaya lain, berupa tindakan atau perilaku, ataupun kemampuan mengerjakan suatu tindakan.

Manusia sebagiai HOMO SOCIUS:

Manusia sebagai HOMO SOCIUS artinya manusia dapat hidup bermasyarakat, bukan bergerombol seperti binatang yang hanya mengenal hukum rimba, yaitu yang kuat yang berkuasa. Manusia bermasyarakat diatur dengan tata tertib demi kepentingan bersama. Dalam masyarakat manusia terjadi tindakan tolong-menolong. Dengan tindakan itu, walaupun fisiknya relatif lemah, tetapi dengan kemampuan nalar yang panjang tujuan-tujuan bermasyarakat dapat dicapai. Jadi pengertian Homo Homini Socio adalah Manusia sebagai makhluk sosial. Adapun ilmu yang mempelajari manusia sebagai makhluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama sesamanya dinamakan ilmu sosiologi.

Manusia sebagai HOMO RELIGIUS

Artinya manusia menyadari adanya kekauatan ghaib yang memiliki kemampuan lebih hebat daripada kemampuan manusia, sehingga menjadikan manusia berkepercayaan atau beragama. Dalam tahap awal lahir animisme, dinamisme, dan totenisme yang sekarang dikategorikan sebagai kepercayaan, kadang-kadang dikatakan sebagai agama alami. Kemusian lahirlah kepercayaan yang disebut sebagai agama samawi yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, percaya kepada nabiNya, dan kitab suciNya yang dipergunakan sebagai pedoman.

Manusia sebagai HOMO HUMANUS dan HOMO AESTETICUS:
Artinya manusia berbudaya, sedangkan homo aesteticus artinya manusia yang tahu akan keindahan. Dari perbedaan-perbedaan yang sedemikian banyak makin nyata bahwa manusia memang memilki sifat-sifat yang unik yang jauh berbeda dari pada hewan apalagi tumbuhan. Sehingga manusia tidak dapat disamakan dengan binatang atau tumbuhan.

Dalam manusia curiosity (rasa ingin tahu) tidak idle, karena pikiran manusia berkembang dari waktu kewaktu rasa ingin tahunya atau pengetahuannya selalu bertambah sehingga terjadi timbunan pengetahuan . Jadi pengetahuannya tidak idle, sedemikian rupa terjadilah perkembangan akal manusia sehingga justru daya pikirnya lebih berperan dari pada fisiknya. Dengan akal tersebut manusia memenuhi tujuan hidupnya disamping untuk melestarikan hidup untuk memenuhi kepuasan hidup serta juga untuk mencapai cita-cita.

Manusia selalu ingin tahu dalam hal apa sesungguhnya yang ada (know what), bagaimana sesuatu terjadi (know how), dan mengapa demikian (know why) terhadap segala hal. Orang tidak puas apabila yang ingin diketahui tidak terjawab. Keingintahuan manusia tidak terbatas pada keadaan diri manusia sendiri atau keadaan sekelilingnya, tetapi terhadap semua hal yang ada di alam fana ini bahkan terhadap hal-hal yang ghaib.

Manusia sebagai Homo Homini Lupus
Manusia itu serigala bagi manusia lain yang dimaksud dengan Homo Homini Lupus, dalam arti luas manusia orang lain dianggap bukan sesamanya atau sahabatnya melainkan musuhnya. Contoh seperti maraknya penculikan, pembunuhan, mutilasi, premanisme yang mewabah, pencurian maupun tindak kejahatan lainnya dinegara kita ini. Hal tersebut mencerminkan manusia sewaktu-waktu dapat berubah menjadi buas seperti serigala jika dalam dirinya terdapat rasa tidak puas, iri, benci dengan manusia lainnya dikarnakan manusia tersebut malas dan tidak mau berusaha untuk sesuatu yang ia inginkan. Dalam hal ini manusia melakukan tersebut juga karna ambisi dan hawa nafsu yang tidak dilandasi dengan aturan hidup yang benar, sehingga mereka melakukan tindakan yang tidak seharusnya dilakukan dalam bermasyarakat. Kembali pada lokus "hati-sanubari" ia yang menjalankan peran sebagai pengatur Dan pengontrol otak. Otak menjadi pemimpin dalam mekanisme ketubuhan bergerak manusia dengan produk result pikiran. Namun "hati-sanubari" lebih memiliki peran kompleks Dari keseluruhan aktivitas kehidupan pribadi, selain jadi pengontrol, pengatur, ia sebagai penasehat serta penanggung jawab atas segala kosekuen otak-pikiran. Dengan perangkat rasa sejati dan sistem spirit hati sanubari membuat segalanya tertampung menjadi satu. Menyimpan pesan kebenaran mutlak yang menjadi pohon kebenaran yang berbuah sub-sub kebenaran. Penulis membuat kerangka teori tentang  Sub-Kebenaran yang menghasilkan beberapa produk result pemikiran manusia diantaranya; Standart moral, etika, estetika, religious, adat-berbudaya, dan pengetauan (science). => Sub-kebenaran di level 1. Kemudian produk-produk tersebut dianalisa lebih kompleks dengan pemantapan pemikiran yang lebih terbuka, pemahaman, penghayatan, permenungan melibatkan pikiran dan hati sanubari  yang memandang kekeliruan dan ketepatan itu sama, tidak memihak "bahwa sistem semesta tetaplah sistem yang bergerak sesuai jalurnya" tak ada yang turut andil ego manusia di dalamnya. Yang menghasilkan produk spiritual terarah, tepat guna, sesuai pengkondisian dan kapasitasnya masing-masing.  (Tunjung Dhimas, 2017).

Pohon kebenaran adalah kebenaran mutlak tidak memihak memiliki perangkat yang dimeta-subkan menjadi kasih dan cinta. Yang melahirkan perdamaian dan kedamaian. Bertubuh kebijaksanaan dan kebersahajaan. Pohon kebenaran mampu hanya bisa di raba dengan sinkronitas pikiran yang menduduki wilayah, logika dan penalaran yang kongkrit serta adekuat, serta hati-sanubari yang menduduki wilayah spirit, permenungan, penghayatan dari keseluruhan bentuk-bentuk rangka dan suasana jagad gumelar. (Tunjung Dhimas, 2017).

Penulis mencoba mencari titik temu antara berbagai bentuk-bentuk konsep teoritis, terstruktur yang menjadi pohon dasar intelektualitas dan teori yang didasari pengalaman dan pengamalan mandiri pribadi diluar meta-akademis. Dan merumuskan bahwa sub-kebenaran dimunculkan dari segala bentuk pemikiran manusia dalam satu dekade  yang kemungkinan bisa absurd digilas gulungan ruang-waktu. Sub-kebenaran diperluas dengan proses pengalaman pribadi dan pengamalan dari warisan leluhur sebelumnya Dari sebuah manuskrip/ kitab/ teks tertentu. Dan menarik konklusi bahwa untuk mencapai kebenaran mutlak atau pohon kebenaran secara teori sebagai berikut: karakter DNA + proses  pembentukan kepribadian dan kecerdasan Dari lingkungan menghasilkan "Pemahaman dan pendewasaan". Teori mutasi 1. Kemudian di turunkan; pemikiran + sains (penemuan) = moral ; moral + keyakinan = religi, mengarah pada persetujuan dan mufakat bersama. Dalam bidang eksata 1+1 = 2 adalah persetujuan dan mufakat.  Disini sub-kebenaran lahir menjadi kebutuhan kohern manusia bersosial (bersama). Jadi kepastian masih bisa digeser.

Teori mutasi 2, DNA + Pendidikan + pengalaman+ pengamalan+ penghayatan+ permenungan+ ketekunan mengelola keyakinan yang terus bergerak dalam implementasi pemahaman atas penemuan-penemuan pesan semesta = mendekati kebenaran mutlak / pohon kebenaran. Kazanah pengayaan ini bersifat pribadi tidak bersama-sama. Jadi sebagai pribadi sebenarnya manusia sudah di takar kepribadiannya oleh sang Maha Mempribadi. Dan penulis berhenti sampai disini, karena ingat  keterbatasan penulis sebagai pribadi, dan menyadari bahwa yang mempribadi telah merawat, meruwat, menumpah pada rumah-Nya yaitu kita manusia. Dan mengijinkan setiap daripada rumah tersebut menemukan kecemerlangan desainnya dengan pola-polanya sendiri yang maha tanpa batas.

Jadi kita hanya bisa menjadi pengatur atas diri kita sendiri, bila bersyukur itu  nikmat kenapa tidak? Jika semua kita telah mengerti kapan peran diturunkan pada kita, kapan gelap-terang hadir dalam kita, kenapa justru membuat kita cemas dan kawatir. Tak ada yang mutlak selama kita hidup, yang mutlak adalah "Sang Kehidupa n" itu sendiri. Biarkan semua peran menghapiri kita, cemas, rindu, hancur, duka, dan lain sebagainya. Tetap konsisten pada pesan yang kita dapatkan dari pola perjalanan hidup kita masing-masing. Untuk hamemayu hayuning bawono. Dengan kesadaran kita masing-masing. Dalam tubuh jasad hidup aku manusia bersosial butuh makan untuk hidup, butuh teman untuk berjalan, butuh Tuhan untuk sandaran. Dalam tubuh kehidupan spirit aku mempribadi dengan ke-utuh-an, datang dalam jagad gumelar kehidupan sendiri, pulang pada kematianpun akan sendiri-sendiri. Dalam jasad hidup bersama kita hanya boleh saling mengantarkan pada gerbang kehidupan dan kematian dengan berbagai macam pengajaran kaweruh dan pengalaman masing-masing. Sisanya kita tempuh sendiri-sendiri secara pribadi. Setelah pintu gerbang itu kita temukan dengan laku. Dan itulah penyaksianku dan penyaksianmu. Sampailah kita pada lembah serupa tapi tak sama, berbeda tetap satu jua. Kembali pada sangkan paran.

.....…...........................................................

Manusia adalah mahluk yang terbatas pada sub-kebenaran, yang berada antara milyaran kebenaran yang menyamudera dalam kehidupan yang digelar.

~ Tunjung Dhimas
.…....….........................................................

(Tunjung Dhimas Bintoro)

Sumber:

Darsono, J. 1964. Mukadimah Persaudaraan Setia Hati Terate. Arsip Cabang Psht Surabaya.

Lutan, Rusli. 2002. Pengantar Ilmu Filsafat . Jakarta.

Maclin, Kimberly. 2008. Psikologi Kompleks: pola karakter Dasar. New York.

Meyer, Joyce . 2011. Pikiran Medan Perang. Immanuel Book Store: Jakarta.

Bintoro, T., D. 2017. Asumsi Teori Sub-Kebenaran dan Pohon Kebenaran. Artikel tidak dipublikasikan.

Jalan Sutra

Cinta ini kupendam dalam hingga tak beraturan. Membuat semuanya serba berbenturan. Aku menyadari cinta pernah membuatku menjadi pemberontak...