Sabtu, 13 Januari 2018

Hidup untuk Berkarya

Memang benar, tapi karya yang seperti apa yang kamu maksud? Setiap hari aku menulis bukankah itu karya. Setiap orang telah berkarya dalam kehidupannya masing-masing. Mungkin kamu hanya sedang sibuk mendermakan dirimu sendiri mencipta karya sesuai asumsimu.

Mungkin bagimu karya adalah kemeriahan yang dibalut pujian dan kemeriahan, atau taburan hujan rupiah?. Tidak.., dalam bahasa estetika kamu belum lulus. Karya itu adalah keindahan tidak bersifat baik atau buruk. Karya itu dedikasi tolak ukur diri mencapai kepuasan batin. Entah duka entah Lara entah bahagia. Dalam bahasa etika kamu masih memihak.

Bagi sekelompok orang, karya adalah yang menghasilkan pujian, dan setumpuk penghargaan, sisanya dimanfaatkan atau bermanfaat bagi orang lain. Boleh asalkan kamu puas! Tapi bagiku karya adalah jalan menuju kepuasan batin tersendiri. Melampaui dulu bentuk penghargaan, pujian, bahkan rupiah. Jikapun itu sempat  hadir bagiku itu hanya sebagian kecil dari dedikasi usaha juangku.

Berkarya adalah kebenaran dalam pencapaian masing-masing menuju kemaslahatan batin baru kebermanfaatannya bagi orang lain. Kebenaran tidak selalu indah dan baik namun apa adanya. Jangan kawatir setiap hari-hari anda semua sudah berkarya. Dengan apapun yang anda jalani dan lakukan saat ini. Bila masih keliru ya diperbaiki. Intinya kepuasan batin puncaknya. Bukan keliru karena dipaksa harus ikut ini itu.

Jangan kawatir berkarya itu luas maknanya. Lihatlah penjahat, pelacur, tokoh agama penipu, kyai penumpuk santri, pastor pemikat jemaat, semua adalah karya  Tuhan Penciptamu. Lalu kamu masih kawatir dengan karya dan dirimu Sekarang?. Temukan karyamu lalu jalani peranmu. Yang penting menjadi kebenaran bukan kebaikan dahulu karena kita berada pada dua sisi gelap terang.

Mau jadi terang atau gelap yang jelas itu sesuai kemanusiaanmu dan Tuhanmu. Kalau masih bingung  jangan ikuti tulisanku. Ini karyaku ini olah batinku.

Mungkin sudah kelewat batas saat tulisanku hanya dipandang sekilas. Menulis itu seni, bebas, dan tanpa batas. Bukan ilmu akademis yang berakhir dengan nilai UAS.

~ Tunjung Dhimas

Senin, 08 Januari 2018

Hemat

Pola hidup "hemat", adalah perkerjaan yang mudah saat pekerjaan dicari susah.

Kerja, kerja, dan kerja untuk apa untuk cari uang dan kemudian membuangnya. Bekerja itu susah, nyari uang itu susah. Stress kesana kemari nyari kerjaan untuk dapetin yang namanya uang.  Ada satu pekerjaan yang menurut saya mudah yaitu menerapkan pola hidup "hemat". Bagaimana kalau dikatain pelit, padahal kita harus suka memberi. Tidak itu hanya celotehan manusia belajar hidup saja. Hemat adalah menahan diri dari hasrat liar yang berlebihan, ambisi yang berlebihan, keinginan-keinginan yang berlebihan.

Berhemat adalah pekerjaan yang mudah di temui, tidak ditekan lembaga instansi, tidak begitu berat juga bebannya. Jika mencari pekerjaan sulit, padahal ketika kita bekerja tentu banyak yang masih menerapkan pola hidup boros apa susahnya kalau diganti dengan produk hidup hemat ini.  Sebagai bisnis sampingan. Pola hemat ini melatih diri agar mengelola hasrat menjadi lebih teratur, tepat guna, dan efisiensi dalam pemanfaatan kususnya dalam mengelola kebutuhan materi (sandang, pangan, papan). Namun bilamana manfaat itu muncul dari beberapa pengadaan diri dalam memenuhi ukuran masing-masing, maka hemat itu seperti "hari ini saya pergi ke mol, saya punya uang 500 ribu, teman mengajak saya beli baju seharga 320 ribu. Sementara saya sedang nyidam beli buku seharga 120 ribu.

Kemudian saya berpikir ulang tentang diri saya,  apa yang betul-betul saya butuhkan? Dan jika di proyeksikan dengan ukuran dan tipe pola saya, buku lebih murah dari baju, buku juga lebih bermanfaat dari baju bagi saya, beli buku tak kalah mewahnya dengan beli baju mewah saat nge-mol gini. Memang buku dan baju adalah sama-sama kebutuhan, dan keduanya adalah karya yang harus di nilai dan di apresiasi. Tapi kapasitas saya, menganalisa buku adalah teman pikiran, buku adalah karya yang tak pernah usang, dijual lebih murahpun tapi manfaatnya akan terus tumbuh dan hidup. Sementara baju hanya menjadi kebutuhan utama, dan keduanya adalah gaya mode penampilan. Sementara buku adalah keistimewaan, bisa menjadi kebutuhan utama saat pengetahuan adalah emas, bisa jadi gaya hidup yang mewah, tak ada penulis dan pembaca yang tidak mewah dan keren. Nah makanya, nikmat Tuhan mana yang kau dustakan? Saat belajar menemukan pola hematmu? Aku menemukan pola hematku hari ini.

Sama-sama sering jalan-jalan, berpetualang, nge-mol, tapi tetep efisien karena paling mentok beli buku-buku dan kentang goreng tambah kopi late. Tetep glamourkan? Saat dianggap boros tapi aku kaya dengan karya-karya tulisan buku-buku. Saat aku terus bertumbuh buku-buku yang kubeli menjadi warisan pengetahuan anak cucuku, buku lapuk namun pengetahuan mengkazanahi pikiranku. Sementara baju-baju sudah usang berlalu.  Jadi hemat itu berkat, hemat itu tepat, hemat itu mengurangi mudharat. Ingat pekerjaan paling mudah itu berhemat, saat banyak yang teriak susahnya nyari kerja dan duit. Selamat semoga kita tetap bermaslahat...

~ Tunjung Dhimas

Bersuka Citalah (Kamu bukan kendali atas dirimu secara penuh)

Setiap manusia, memiliki karakteristik dasar yang berbeda-beda. Jangan meletakan "harapan" pada manusia sekalipun ia kau lihat, kau anggap orang hebat-guru spiritual dan apapun indentitas latar belakangnya. Karena mereka tetap manusia yang berpotensi menyakiti, dan kitapun berpotensi tersakiti. Sebagai manusia yang di warisi hasrat-perasaan oleh Sang Gembala.

Kita hanya diberi kuasa saling menghormati-menghargai saja. Tidak ada teman spiritual yang ada hanya teman sosial. Teman sejati hanyalah diri sendiri dan kebenaran. Sementara Kebenaran itu hadir melalui apapun dan siapapun. Ketika kebenaran itu kita ambil dari seorang Guru-pembimbing maka ambil itu sesuai porsi tepat guna.

Tidak perlu berkecamuk dengan apa yang dilakukan guru/ manusia pemberi ajaran tersebut entah dia mengaplikasikan atau tidak ajaranya, pada sikap dan tutur tindakannya mengingat iapun manusia yang mutlak diikuti syarat keterbatasan. Itu hanya menyakiti diri kita karena kemelekatan mengganggap guru-panutan harus menjadi yang kita paksakan sesuai sudut pandangan kita. Padahal semua itu tidak ada ukuran standart idealnya-cuma anggapan kita saja sebagai manusia yang suka melabeli sudut pandangan.

Letakan harapanmu pada Tuhan bukan manusia, karena ia tak akan membuatmu kecewa. Tanamkan itu dalam hatimu karena ia akan merawat-Nya hingga bertumbuh menjadi pohon iman yang berbuah lebat kebijaksanaan. Sehingga segala bentuk duka-sukacita, baik-buruk kita pandang sama. Jangan bunuh harapanmu dengan merasa bahwa dirimu adalah Tuhan.

Kita bukan Tuhan. Kita mahluk yang penuh keterbatasan. Kita hanya dipakai Tuhan. Biarkan segala tutur, tindakan, sikapmu dipakai Tuhan. Ia telah mempersiapkan kita sesuai kapasitas, talenta, keunikan kita. Jangan takut apapun. Perang terbaik adalah melawan rasa takut dan menebar kesukacitaan. Jangan mengeluh Tuhan bersama kita. Tidak mengeluh perdetik adalah ivestasi masadepan yang penuh hikmat kesukacitaan.

Serupa tak sama, ketiadaanpun mengada karena kita mengijinkannya untuk "terjadi" berdasarkan kesepakatan bersama. Tuhan telah berkata pada dirimu bahwa dia ada, dirimu sendiri yang menjadi saksi melalui detak-jantungmu sendiri. Kita kekasih dari Sang Maha Kasih, berjalan bersamanya, tumbuh bersamanya, jangan nestapa difakirkan cinta. Karena ia mencintai manusia yang mengijinkan Tuhan untuk mengambil alih kedudukan hati hambanya yang sering lapuk dan berkarat.

Ketika aku bertutur, membuatmu nyaman, dan teduh maka itu bukan pekikan suaraku, melainkan Tuhan bebicara padamu melalui pita suaraku.  Jangan lantas jatuhkan harapan dan hatimu pada aku. Bisa jadi besok atau lusa aku mengecewakanmu. Karena aku bukan tempatmu melakukan apapun yang kau anggapi.

~ Tunjung Dhimas

Rabu, 03 Januari 2018

Nafsu

Jadi soal nafsu itu begini. Bukan kok tidak boleh bernafsu, malahan nafsu itu dikaruniakan bagi manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Bahkan nafsu ada dalam daftar kebutuhan pokok kehidupan. Yaitu makan, tidur dan sex itu semua adalah nafsu. Akan tetapi manusialah yang harus mahir dalam mengendalikan nafsunya, bukan nafsu yang mengendalikan manusianya. Ibarat naik kuda bukan kita yang nurut kemana arah kuda berlari, melainkan kita yang mengendalikan kuda untuk berlari kearah yang kita kehendaki.

Sama halnya dengan makan, tidur dan sex. Bukan kok tidak boleh makan hanya saja jangan makan yang berlebihan dan sembarangan. Pilihlah makanan yang sehat untuk menjaga badan. Bukan kok tidak boleh tidur hanya saja jangan sampai mengurangi produktifitas kerja dan menghabiskan waktu seharian karena itu sangat merugikan.

Bukan kok tidak boleh sex hanya saja harus dilakukan dalam payung norma dan moral yang telah ada, itupun juga tidak boleh berlebihan. Bukan mentang-mentang sudah punya ikatan resmi lalu sepuasnya melakukannya, karena sekalilagi itu nafsu jadi jangan berlebihan juga. Harus di tempatkan sesuai proporsinya.

Bukankah meskipun ketika buka puasa kita tetap dianjurkan untuk berhenti makan sebelum kenyang? Nah rule yang sama juga berlaku untuk semua nafsu termasuk tidur dan sex. Tetap harus di kontrol agar nafsu tunduk pada kita. Selalu ingat bahwa kita adalah penunggang kuda. Kitalah yang harus pandai-pandai dalam mengendalikan kuda, bukan malah kuda yang jadi pengendali utama.

(Surabaya penunggang kuda)
28 Desember 2017
~ Saila Atmaredja

Iling (Sadar Diri)

Setidaknya setiap orang tidak bisa terlepas pada tanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Terlepas ia ingat, setengah lupa, atau lupa sama sekali. Karena takdir kedepan ditentukan oleh pilihan hari ini. Konsekwensi atas hari ini diciptakan oleh hari kemarin. Oleh karenanya selalu iling (sadar diri) dalam membuat setiap keputusan. Selalu iling bahwa apa yang terjadi hari ini adalah buah dari pohon yang ditanam kemarin.

Sak bejo-bejoning wong sing lali, isih bejo wong sing eling. Artinya seuntung-untungnya manusia yang lupa diri, tidak mungkin dia akan lebih untung daripada orang yang sadar diri. Sadar diri bukanlah lawan kata pingsan. Sadar diri artinya menyadari diri seutuhnya. Sadar bahwasanya ia punya banyak pilihan, namun ia menyadari seutuhnya bahwa ia sedang memilih. Sadar atas apa yang dipilih, dan sadar atas konsekuensi pilihan yang telah dipilih.

~ Saila Atmaredja
Surabaya 03/01/2018

Senin, 01 Januari 2018

Menikah

Menikah adalah wadah dari, pengelolaan "seks" / kamasutra yang merupakan tujuan dari prosesi kehidupan manusia secara umum. Menikah adalah proyeksi sakral dari hukum penataan letak an penurunan wahyu wiji sejati (benih manusia) dalam siklus cakra manggilingan atau penyampaian pesan-pesan atau data-data (karma baik/ buruk / woh pakarti) lintas generasi. Kesakralan menikah adalah tertuangnya ikrar janji sebagaimana manusia akan kembali pada "kesatuan tunggal" dengan Sang Esensi. Yang menuangkannya pada dua maniefesto kesakralan yang tertuang pada prosesi "njimak dan mbubak". Njimak dan mbubak adalah sanggeman mutlak dalam hakikat pernikahan.

Mbubak

Mbubak adalah tujuan Sangkan Paran. Mbubak adalah ritual menurunkan wiji sejati manusia melalui "mantu kembar mayang" atau melepas sang anak melalui menikahkan mereka sebagai tujuan manusia yang paling terakhir dalam perjalanan hidupnya sebelum menua dan mati. Mbubak ini ritual gayuh wahyu (menjemput wahyu) yang dititipkan pada sang anak yang sudah menikah dan berganti menjadi orang tua selanjutnya. Yang terlambang pada cikal -bakal pohon pisang dan kelapa yang menunduk ke tanah. Inilah yang disebut wahyu turun temurun. Yang diwariskan melalui mbubak seserahan, dan njimak menggumpulnya air mani sebagai ruh ilafi dan segumpal darah sebagai ruh jasmani mencipta wujud benih manusia berwujud jabang bayi. Yang keduanya diwadahi dalam upacara pernikahan.

Njimak adalah ritual persetubuhan/ penyatuan (Kama Sutra).

Kama Sutra (Sanskerta: kama, yang berarti keinginan, hasrat, cinta atau nafsu) dan  sutra, yang berarti benang atau rangkaian) adalah rangkaian dari adegan hasrat dalam hubungan seksual. Ada sebagian orang yang mendifinisikan Kama Sutra sebagai tali atau benang pengikat dalam percintaan. Kama (batara Kamajaya) juga merupakan lambang dari dewa percintaan, seperti yang dikenal dalam cerita Kamajaya-Ratih (dewi Kamaratih). Kesadaran saya menemukan kasunyatan bahwa kama sutra adalah bentuk penyembahan pada Tuhan.

Seperti dalam suluk tambang raras dinyatakan bahwa "bertemu Tuhan itu candu dan lelap seperti nikmat segama yang membuat kita lupa dari dataran hasrat yang menumpah menjadi proyeksi penyatuan atas dualitas". Kama sutra merupakan kejumbuhan (bentuk lain dari penyatuan). Prosesi dimana penyatuan itu menghasilkan konstelasi kemenyatuan yang menyipta gatra untuk terjadinya pengejawantahan. Hukum kausalitas alam raya terbentuk dari partikel satu dengan partikel lainnya yang memiliki sifat saling mengisi satu sama lain (ini saya pahami juga sebagai bentuk persetubuhan). Presisinya bila diturunkan pada hukum  kesadaran manusia (semesta kecil) manusia terbentuk dari manusia lain yang memiliki sifat saling melengkapi satu sama lain (karakter energi feninin -maskulin).

Bedanya manusia ini diwarisi norma - norma standart moral yang terbentuk dari reduksi data panca inderawinya yang terbatas. Terselubung oleh pikiran yang menghasilkan pembatasan akan prosesnya menjalani hidup (melahirkan adat, moral, hukum agamawi). Orang jawa menyatakan dengan ucapan pager ayu dan poros ijo. Sebagaimana menakar pemahaman kama sutra yang dilakukan hanya untuk memenuhi hasrat semata tentu berbeda jika dilakukan dengan kesadaran  (mengurai bahwa kama sutra itu lebih utama dilakukan atas budhi ; dilakukan untuk menyalurkan energi yang selaras, menemukan jodoh, mendapatkan putra, dan menerima wahyu jiwa suci dan tua yang perlu jalan untuk hadir di bumi kembali karena misi) otomatis inilah yang menyatakan kamasutra adalah "Keu- Tuhan".

Dalam serat centini kama sutra di jabarkan bagaimana posisi, waktu, dan mantranya. Itu merupakan proyeksi sakral bahwa kama sutra adalah bentuk lain dari sembah dan asal usul manusia secara kasunyatan. Mengingat energi kama sutra bila tak disalurkan memicu seorang pecinta bisa menjadi pemerkosa (perusak). Karena terbendungnya energi memicu tekanan jiwa (psikologis).

Menikah sejatinya ada 4 patrap.

Menikah pertama adalah kemesraan cinta Tuhan dan manusia jadi menjaga kebaktian dan kesetiaan sang mahluk kepada Gembalanya adalah pernikahan.  Menikah kedua adalah manusia dengan alam (jadi mengotori sungai, menggunduli hutan, dll ) juga mencinderai kecintaan dan kemesraan pernikahan. Menikah ke tiga adalah manusia dengan manusia yang berlawanan jenis secara pribadi/ picisan (feminim-maskulin) sebagai jalan kasampurnaan dalam mengelola proses pematangan jiwa melalui pembelajaran mengelola hasrat/ nafsu menjadikanya budi pakarti. Sementara menikah ke empat adalah menikah dengan kesosialan antar manusia, merawat hukum moral berbudi dengan sesama, seperti contoh kemesraan pemimpin dan rakyatnya saling asih asuh dan handarbeni. Bentuk pengorbanan dalam pernikahan adalah melakukan dharma kebaikan berdasarkan empat patrap tersebut sebagai laku keprihatinan. Berbuat baik dan melakukan jatah anda dengan landasan dharma akan mempermudah generasi kehidupan setelah anda. Jika tidak untuk jalur sesama manusia lain , setidaknya memberikan kemudahan pada jalur keturunan masing-masing pada anak cucunya kelak dan inilah wohing pakarti. Mungkin anda melihat seseorang atau anda mengalami sendiri ketika seseorang yang awalnya biasa saja bisa menjadi orang yang sukses. Itu bisa jadi di masa kehidupan sebelumnya mbah buyutnya ada yang melakukan empat patrap pernikahan seperti suka memberi, menolong orang lain saat diri sendiri dalam kesusahan, suka tirakat untuk merawat Kesetiaan pada Sang Gusti/ Tuhan. Percaya atau tidak namun fakta kongkritnya seperti itu. Mau bertindak berdasarkan hukum pernikahan sebagai azas ketuhanan dan perikemanusiaan atau keluar garis monggo resiko tanggung anak putu, eh keliru resiko tanggung penumpang hihi.

Rahayu ...

~ Tunjung Dhimas

Sabtu, 30 Desember 2017

Jalan sepi (2) ( episode Jokowi )

Dari DdB:

“Kamu tahu,” kata saya, “Mungkin berkah tak terhingga bagi Rakyat Prancis di tengah krisis global yang melanda negerinya adalah tampilnya Francois Hollande sebagai Presiden”

“Mengapa?"  Katanya berkerut kening.

“Hollande sebagai seorang sosialis memang dekat kepada rakyat dengan pribadinya yang rendah hati. Betapa tidak,  dia memilih skuter bermerek Vespa untuk kendaraanya ke mana-mana. Tinggal di Apartement sewaan. Kesederhanaannya, di tengah kehidupan dunia barat yang mengagungkan materialistis,  membuat rakyat Prancis tersentuh .

Mungkin dampak krisis global yang dipicu oleh kerakusan para pemimpin yang menampilkan gaya hidup glamour telah membuat rakyat muak dan Hollande memang sosok yang dirindukan. Walau tadinya dipandang sebelah mata bagi pencinta kapitalis
namun bagi rakyat, itu menjadi sebuah keyakinan tentang harapan di masa depan”

“Apa kebijakannya yang menyentuh secara personal?"

“Dia memotong anggaran 30% biaya kepresidenan termasuk gajinya sendiri. Kebijakan itu seakan dia berkata kepada elite Prancis. Cukup sudah kemewahan seorang pemimpin. Cukup sudah kemanjaan seorang pempimpin. Berkali-kali krisis terjadi karena para elite rakus. Saatnya pemimpin bekerja keras dan melupakan kemewahan karena jabatannya.

Tapi kamu harus tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Hollande sudah diterapkan oleh Jokowi ketika menjabat Walikota. Dia menerima gaji sebagai walikota namun tidak untuk pribadinya. Dia mendapatkan anggaran untuk fasilitas kedinasannya namun dia tidak membeli mobil mewah.

Ketika para pemimpin lebih senang berada di kantor mendengar laporan dari bawahannya namun dia mendengar langsung dari rakyat dan kemudian bersikap untuk memaksa bawahannya bekerja efektif untuk rakyat. Ketika kebanyakan pemimpin memanipulasi angka kemiskinan rakyatnya dengan menetapkan kriteria miskin sesuai standar statistik, Jokowi menetapkan garis kemiskinan berdasarkan apa yang dilihatnya langsung di lapangan. Maka jadilah Solo sebagai kota dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Ia tidak peduli bila karena itu citranya rusak. Tapi dengan itu membuat dia terpacu untuk memaksa dirinya dan bawahannya agar bekerja lebih keras untuk rakyat. Program sekolah gratis dan kesehatan gratis dicanangkannya lewat sistem yang memudahkan rakyat mengaksesnya.

Kesederhanaan Jokowi bukan berarti dia miskin. Sebelum menjabat walikota dia adalah pengusaha berkelas dunia dan sempat berkarir sebentar sebagai karyawan magang. Uang berlebih yang didapatnya dari bisnis tidak ditumpuk di bank tapi digunakannya untuk meluaskan kesempatan orang lain mendapatkan pekerjaan. Sebagai pengusaha, memang dia sukses walau tak sekelas konglomerat. Namun harta yang dia punya dia gunakan untuk keperluan pribadinya selama menjabat sebagai walikota tanpa harus membebani APBD. Itu sebabnya harta pribadinya menurun setelah menjabat sebagai walikota. Sangat kontras dengan pejabat lain yang justru hartanya bertambah setelah mendapatkan kekuasaan.

Jokowi tidak pernah berpikir bahwa kekuasaan adalah segala-galanya. Baginya kekuasaan adalah tanggung jawab spiritual yang harus dipertanggung jawabkan tidak hanya kepada rakyat tapi juga kepada Tuhan.

Pencalonan dirinya sebagai Gubernur ala demokrasi dan kemudian Presiden tidak membuat dia larut dengan gaya kampanye kapitalis. Tidak ada billboard yang memajang foto dirinya untuk dikenal orang banyak. Tidak ada iklan televisi yang bertujuan untuk menggugah orang untuk mempercayainya dan memilihnya. Dia lebih memilih mendatangi rakyat langsung. Yang kaya dan miskin dia perlakukan sama dengan rasa hormat yang tulus. 

Walau begitu tanpa inferior complex diapun tampil di hadapan para akademisi dan kelompok menengah  untuk berdialog apa yang sepatutnya dilakukan oleh pemimpin. Tak peduli bila sebagian mereka meragukan kemampuannya. Dia tetap fokus dengan keyakinannya dan tidak memaksa orang untuk memahaminya namun dengan kesederhanaannya membuat orang mengerti apa niat besar di balik kata-katanya.

Ini pelajaran mahal bagi siapa saja, terutama bagi Elite politik yang mengusung jargon Agama, nasionalis sosialis. Jangan lagi bermimpi bahwa partai besar akan membesarkan anda hingga pantas terpilih. Rakyat sudah bosan melihat gambar partai. Rakyat butuh pemimpin yang berhati mulia , yang dekat kepada rakyat dengan kesederhanaan bersikap dan berkata namun gagah berani membela kepentingan rakyat banyak; Yang memastikan orang kaya harus berbagi kepada yang lemah dan yang lemah terlindungi,“ kata saya.

“Luar biasa ya, Pak. Sudah saatnya para pemimpin entah itu di eksekutif, legislatif atau yudikatif untuk bersama-sama mengubah attitude-nya dari hidup kemaruk harta dengan segala trik atas nama rakyat menjadi hidup sederhana dengan kerja keras demi amanah untuk kesejahteraan rakyat banyak.“

“Yakinlah, kalau kita jujur dengan hati nurani kita, kehadiran Jokowi sebagai pemimpin adalah pesan Cinta Tuhan dan seharusnya menjadi inspirasi bagi siapa saja dalam meniti karir kepemimpinan." Karena kita punya segala-galanya tapi kita langka orang baik. Terutama yang menjadikan kekuasaan sebagai jalan pengabdian dengan menjauh dari kehidupan glamor namun mendekat kepada rakyat miskin. Ingatlah sabda Rasul yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa “Tidak bakal susah orang yang hidup sederhana."

“Ya, Pak. Bagaimanapun, negeri kita yang besar ini butuh banyak pemimpin di semua lini. Hidup sederhana adalah kekuatan sesungguhnya. Bila amal kebaikan dengan sikap rendah hati  disemai di dunia maka buahnya akan didapat di akhirat, dan itu janji pasti dari Allah.”

“Tepat sekali,“ kata saya tersenyum. Anak muda ini memang cerdas”

“Terus gimana dengan keberanian?"

“Teman saya seorang politisi bilang,
sepertinya Jokowi tidak punya urat takut. Banyak kebijakannya dihindari oleh pemimpin sebelumnyakarena takut menimbulkan kekacauan politik. Maklum, walau presiden dipilih langsung oleh rakyat ratusan juta orang, namun setelah terpilih, negeri ini dikuasai oleh elite politik yang jumlahnya tidak lebih 1000 orang. Tidak sulit mereka menjatuhkan Jokowi apalagi kalau terjadi konspirasi dari mereka.

Tapi memang apapun kebijakan yang memaksa kita keluar dari zona nyaman, dia lakukan tanpa rasa takut. Walau berkali-kali diperingatkan dengan segala resiko goncangan politik, dia tidak peduli. Semakin tinggi rasa takut kita semakin dia kencang untuk melaksanakan.

Menurut saya, secara manusiawi tentu Jokowi punya rasa takut namun dia mampu mengalahkan rasa takut itu sendiri. Mengapa? Rasa takut itu bisa membuat pikiran dan pertimbangan kacau. Akibatnya banyak keputusan dibuat tidak tepat karena pikiran kacau dicekam rasa takut. Akhirnya, keputusan-keputusan itu justru menciptakan masalah yang lebih besar. Dampak keputusan yang salah amatlah merugikan. Banyak orang menderita, karena kesalahan kebijakan yang dibuat pemerintah. Sayangnya, banyak kebijakan tersebut dibuat atas dasar rasa takut akan masa depan. Rasa takut mengaburkan kejernihan berpikir, dan memperbesar masalah yang sudah ada sebelumnya.

Dari mana akar ketakutan semacam ini? Saya melihat, akar ketakutan terletak pada kegagalan memahami arti hidup sesungguhnya. Artinya, ketakutan lahir, ketika orang gagal memahami kenyataan apa adanya. Ia melihat dunia hanya semata dengan pikiran dan perasaannya, yang seringkali dianggap utopia. Menurut saya karena kita anggap hidup ini terlalu serius. Padahal hidup ini hanya senda gurau saja.  Engga percaya? Banyak orang menghindari rasa sakit. Mereka takut akan rasa sakit. Berbagai cara dilakukan, mulai dari yang masuk akal sampai dengan yang mistik, untuk menghindari rasa sakit. Padahal, rasa takut akan rasa sakit adalah rasa sakit itu sendiri. Usaha untuk menghindari rasa sakit akan menghasilkan rasa sakit itu sendiri. Ketika orang berusaha untuk menghindari rasa sakit, maka rasa sakit itu akan bertambah.

Banyak orang berusaha mencari kedamaian dalam hidupnya. Banyak yang melihat agama sebagai jalan menuju kedamaian. Banyak pula yang mencari jalan lain, guna memperoleh kedamaian di dalam hatinya. Namun, keinginan untuk merasa damai justru menciptakan perasaan tidak damai. Segala upaya untuk mencapai kedamaian hanya akan menghasilkan ketegangan. Ketegangan itulah yang menjadi akar dari rasa tidak damai.

Banyak orang menghindari rasa takutnya. Mereka mencari berbagai cara, supaya bisa melampaui rasa takutnya. Mereka bekerja keras untuk menemukan keberanian di dalam hidupnya. Padahal, keinginan untuk berani adalah tanda dari ketakutan. Semakin kita ingin berani, semakin ketakutan akan mencekam hidup kita. Orang yang mencari segala cara untuk melampaui ketakutannya justru akan selamanya dijajah oleh rasa takut di dalam hatinya. Banyak orang takut memberi, karena mereka takut kehilangan. Akhirnya, mereka menjadi pelit. Mereka menutup diri dari dunia, dan hidup semata untuk dirinya sendiri.

Padahal, di dalam hidup ini, semakin banyak kita melepas, semakin banyak kita mendapat. Orang harus keluar uang, guna mendapat uang. Orang harus memberi, guna mendapat. Orang harus melepaskan keinginan untuk damai, jika ingin memperoleh kedamaian di dalam hidup.

Semakin kita mengontrol orang dengan ketat, semakin semuanya kacau. Namun, semakin kita memberikan ruang kebebasan di dalam manajemen, maka produktivitas dan kebahagiaan anggota organisasi akan meningkat. Kontrol yang keras akan menghasilkan kebencian dari pihak yang dikontrol.

Banyak orang mencari pengetahuan di dalam hidupnya. Mereka pergi ke sekolah dan perguruan tinggi ternama. Mereka mencari pengetahuan di negara lain, jauh dari tanah air mereka. Padahal, pengetahuan yang sesungguhnya bisa dicapai, jika kita berhenti dan berdiam diri. Pengetahuan yang sejati tidak berada di luar diri kita, melainkan di dalam diri kita. Ketika bergerak dan berbicara, kita justru akan terlepas dari pengetahuan yang sejati. Kita lalu hanya akan terjebak di dalam jutaan pendapat yang mayoritas adalah omong kosong.

Jadi gimana seharusnya? Menurut saya dan pengalaman saya hidup di atas usia 50, caranya, ya, lepaskan semua ambisi yang berlebihan. Maknailah keseharian kita sebagai cara Tuhan berdialog dengan  kita. Hadapi keseharian kita dengan senyum. Mengapa? Semua peristiwa itu adalah cara cinta Tuhan untuk melatih kita sabar, rendah hati, ikhlas. Soal peristiwa yang terjadi itu hanya senda gurau saja. Itulah hebatnya Tuhan. Orang bego aja yang anggap hidup serius amat. Dan lihatlah Jokowi, dia bisa melakukan hal yang luar biasa karena dia mampu melawan rasa takut. Nyatanya aman-aman aja. Dia masih bisa santai piara kambing dan kodok. Orang lain saja yang tiap hari stress pakai baper segala, bawa orang demo segala…Mau ngapain?

“Ya, Pak. Luas sekali pemahaman bapak menilai seorang Jokowi. Saya sudah tekad akan menjadi salah seorang yang akan berada di samping Pak Jokowi. Bapak memberi jalan saya menemukan pesan cinta dari Tuhan, bahwa memilih Jokowi adalah itjihad orang beriman yang berahklak baik."

Bersambung.

Sumber: Buku Jalan Sepi (sedang  proses edit design & layout).              AB. Christian via Tunjung Dhimas Bintoro

Jalan Sutra

Cinta ini kupendam dalam hingga tak beraturan. Membuat semuanya serba berbenturan. Aku menyadari cinta pernah membuatku menjadi pemberontak...