Kamis, 30 Maret 2017

Hakikat Keyakinan

Bagiku "KEYAKINAN" adalah pohon Kebenaran Keyakinan adalah bentuk lain dari kebenaran, hanya ada dalam diri pribadi, dunia luar diri adalah kepalsuan dan kebohongan. Rata-rata banyak manusia merusak kebenaran dengan membenarkan diri, tapi aku baru sadar bahwa kebohongan dan kepalsuan juga suatu kebenaran, kebenaran yang melampaui keyakinan . Kebenaran akan seluruh realitas. Kebenaran terjadi saat semua keberadaan seluruh lapisan realitas (tergatra maupun tidak) diterima secara sadar, bukan terdistorsi produk-produk pikiran. Walaupun produk pikiran itu juga bagian dari kebenaran itu sendiri secara utuh dan itulah hierarki. Intinya kebenaran tidak perlu diperdebatkan hanya perlu diselami, dimengerti, dipahami sesuai proporsionalitas setiap pribadi. Simplenya adalah melepaskan, menerima apa adanya, dan meyakini akan apa yang sudah dimengerti membulatkannya menjadi prinsip, namun tetap terbuka pada apapun perubahan, fenomena, ide-ide, dan cakrawala baru.. Kadang hidup ini begitu rumit karena pikiran adalah medan perang kata Joyce Meyer. Produk-produk yang dihasilkan pikiran ini merupakan bentuk lain dari iblis yang bersemayam di dalam diri. Manusia terus berperang dan bahkan ketika terjadi disharmonis dalam tindakannya, itu karena kekalahan perang dengan iblis dalam diri itu. Bahkan mampu merusak dan menguras tataran energi dalam diri, keruh dan teracak. Memicu cairan pembentuk emosional (melankolis, flegmatis, coleris, sanguin) yang mengendarai kuda hasrat merongrong sang diri hingga pedut, penuh kekemerlutan. Disini peran Tuhan, Ia bekerja dibalik layar. Manusia hanya perlu menetapkan pilihan dengan menaruh harapan, membentuk keyakinan, melepaskan segala sesuatu (berserah diri total) pada Ia. Menyatakan bahwa Tuhan telah bekerja ketika manusia menghentikan pekerjaannya (hasrat kemampuan yang menggebu-gebu, kekawatiran, ketakutan, memaksakan kehendak bebas). Disini pohon "keyakinan" di matangkan dengan kesadaran disini buah keyakinan telah ranum menjadi "Iman". Hingga manusia selalu selaras dengan dirinya, sinkron antara hati dan pikiran seperti terus berada di tengah laju qodrat iradat tak lebih tak kurang dan seimbang. Hidup semestinya, karena sejatinya pikiran adalah lautan samudera yang mengoyak Sang benih ketenangan, ketentraman, kedamaian. Harapan adalah sebentuk dayung, keyakinan adalah perahu, dan Iman adalah jangkar. Karena hidup adalah berlayar di medan silang ruang waktu yang terus bergerak bengis dan kejam. Namun harapan, keyakinan, dan iman membuatnya tetap seimbang. Hingga ketetapan kontrak yang tertulis oleh Sang Tuhan menggugatnya. Dengan keyakinan setidaknya benar-benar dihargai oleh diri kita sendiri akan existensi kita. Keyakinan bukan produk kefanatikan namun buah kasunyatan. Yakinlah bahwa dirimu akan menemukan keyakinan itu sendiri, letakan harapan didepan keyakinan, nyatakan bahwa ia selalu bersama anda dan itulah perisai selimut sutra terlembut dari Tuhan. Agar produk pikiran-pikiran yang terus berubah-ubah dan negatif tertata dikotak keyakinan. Dan semua be quite. Setidaknya dengan keyakinan manusia berani menjadi diri mereka sendiri, mereka mampu mengadaptasikan dirinya dengan manusia lain dan lingkungan sekelilingnya. Percayalah zaman sekarang dunia tidak butuh orang-orang cerdas, integritas, intelektualitas semata, namun butuh orang yang yakin akan dirinya sendiri, penuh mentalitas, dan rendah hati (respectivitas). Tidak berbohong pada diri sendiri, inilah benih revolusi mental sejati. Bukti catatanku, banyak orang cerdas, integritas, intelektualitas, zaman sekarang hanya berjibaku pada kepentingan dirinya sendiri. Parahnya beramai-ramai mencuri, mencuri dengan nama korupsi. Termodifikasi dengan kontemplasi instansi. Lemah dalam keyakinan, menghancurkan mental sejati, mendistorsi nilai rendah hati !! Anak kandungnya dijadikan anak tiri, akibat desentralisasi teknologi yang mengebiri, hilangnya rasa peduli, semua telah mati, dibunuh hembusan tirani !!! Selamat, menyingkap tabir keyakinanmu kawan.... Tunjung Dhimas

Minggu, 26 Maret 2017

Kestelek PSHT

PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE adalah rumah pengabdian terhadap kemanusiaan . Guratan untuk saudara seperguruanku .... Dalam waktu kita adalah kesatuan berwadah sebuah organisasi, jangan engkau mencoba membela Organisasi , bila engkau sendiri tak mampu membela dirimu sendiri ... Untuk apa engkau bisa menendang, memukul, bahkan mematahkan serangan-serangan musuhmu jika engkau sendiri masih memanjakan nafsumu, merawat sikap arogansimu, wahai saudaraku kita adalah "satu" yaitu sa berarti satu nafas, tu sekandungan atau satu kandungan..walaupun sejatinya kita berbeda namun kita serupa dan sama pada segala causa prima itulah budi luhur saudaraku.... Pencak silat adalah ketubuhan hanya dinamika sebuah transfer komunikasi antar sesama mahluk ...untuk apa engkau bangga atas dirimu sendiri jika hanya merugikan banyak pihak di sekitarmu... PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE adalah rumah ikatan kita antar manusia dan manusia, yang kita sebut (persaudaraan) selanjutnya perkembangan menuju sang Causa Prima adalah pribadi kita yang mampu memegang prinsip teguh ajaran budi luhur (setia hati) yang berisi cinta kasih, ketulusan, kejujuran hingga menjadi kematangan pendekar (Terate) atau mekar menjadi sekuntum bunga yang hidup dimanapun tanpa merusak lingkungan sekitar namun tetap elok dan indah ... Bukan aku mengguruimu ... Namun begitulah aku mengungkapkan guratan pemikiran, isi hatiku kepada engkau saudaraku ini buah yang kudapat dari Persaudaraan Setia Hati Terate milik kita bersama.... Aku yakin engkau juga mendapatkan apa yang pernah kudapatkan disana ...betahun-tahun lamanya kita dipaksa menyakiti diri kita sendiri untuk menyadari bahwa tubuh kita lebih pantas tersakiti daripada menyakiti orang lain di luar diri, sungguh kotornya diri ini hingga saat berlatih silatpun kita mencoba membohongi diri sendiri ... Dari situ harapan kejujuran, welas asih timbul dengan natural ... Hingga kita mampu meresapi setiap apa yang diproseskan hidup untuk kita dan organisasi ini mengajarkan itu wahai saudaraku.... Jangan engkau kotori namamu, nama organisasi ini dengan engkau menunjukan apa yang sebenarnya tidak pernah membuatmu damai ... Simpan pencakmu untuk kluarga, manusia, dan dunia ini ... Itu adalah alat perdamaian wahai saudaraku..... Mari berjibaku untuk membesarkan nama organisasi kita ...semboyan "Mendidik manusia yang berbudi luhur mengerti benar dan salah adalah maniefestasi dari setiap pribadi kita saudaraku..." Memayu hayuning diri, memayu hayuning sesami, memayu hayuning bawono adalah pengabdian pikiran dan hati kita saudaraku, kembang Terate adalah senjata pribadi kita saudaraku..... Keyword !!! (Salah satu ungkapan yg sering disunderstanding) "aku bisa tampil polos, dan murah senyum, namun aku juga bisa menjadi jahat, semua tergantung sikapmu terhadapku, ora bakal ngamuk yen tanpo jalaran" "Suruh temu rose lumah murep podo rupane yen digeget podo rasane" Note: saudaraku dua kutipan diatas secara logika memang dibolehkan namun tidak serta merta dibenarkan ungkapan itu akan baik jika tepat penggunakannya namun jika tidak maka pertikaian dan arogansi yang akan dilahirkan .... Berikut teori validitas kemutlakan menurut saya yang direkom untuk kita saudaraku : 1. Kebaikan : moral + karakter 2. Kebenaran : kebaikan + science+ intelegensi 3. Kebenaran absolut : kebaikan+ science+intelegensi+ renungan+ otoritas Ke-Tuhan-an... Selama Matahari terbit dari timur, tenggelam di sebelah barat, selama bumi masih dihuni oleh manusia selama itu pula PSHT akan tetap Jaya ........ Nuwun ..... Tunjung Dhimas Bintoro

Ibu Adalah Jalan mengenal Hidup


Wanita adalah ibu tanpa wanita aku tidak menemukan jalanku, tanpa wanita aku tak kan pernah menghirup rindu-rindu yang menyesakan dada, tak pernah mengerti indahnya panorama cinta, tak mengerti kesunyiaan yang mengarti..

Kecintaan, ketaatan, kesukacitaan, kepahitan semua karena wanita yang telah mengijinkan aku terlelap dikandungnya lalu terbangun di kefaanaan ini, wanita yang kusebut ibu adalah Hutan sunyi yang menghidupi mahluk-mahluk, Ibu adalah malaikat yang menyembunyikan sayap indahnya, bahkan ia rela mematahkan sayap indahnya demi buah hatinya, sakitnya adalah sakit buah hatinya.

Bahkan ia rela melepaskan paras rupawan yang indah ketika buah hati mengada, oh ibu oh wanita engkau simphony, nada, ritme, yang melingkar penuh di malaya hidupku, penantianku akan kematian yang menakutkan itu menjadi indah karena kasihmu, engkau juga menampungku ketika Tuhan menyatakan janjiNya, dengan iklas kau relakan rahimmu untuk kutempati ketika aku bersetubuh dan berselingkuh indah dengan Tuhan.

Bagiku engkau adalah jatung hati yang layak kuhormati, kulindungi, kumengerti penuh arti, bahkan kurela tersakiti oleh wanita-wanita demi balasku untukmu karena bagiku seluruh wanita adalah maniefes dari engkau ibu, janjiku tak akan merusak wanita itu sebelum suara Tuhan mengijinkan dalam sumpah tradisi...

Karena kenikmatan "segama" adalah perasaan murni yang menggatrakan hati nurani ini...
Setelah aku mengetahui kutunduk pada perisai jalan kotor yang memberadakanku itu ...
Karena engkau adalah awal jalan hidupku untuk mengerti dan mengenal Tuhan....ku...

Tunjung Dhimas

Senin, 20 Maret 2017

Berbohong Demi Keseimbangan (Keharmonisan Semesta)


Hidup adalah dualisme sisi depan layar dan belakang layar, ini adalah dua keadaan yang kadang tidak terjangkau oleh kalayak namun mutakir sering dirasakan tanpa penjelasan kongkrit dan rasional person yang bisa mencapai titik ini adalah dia yang mendapatkan jiwa-jiwa "pamomong" atau penjaga, pengarah, dan penyampai wahyu, rema-rema atau bahasa-bahasa intuitif yang disampaikan Sang Maha Agung kepada pramesta lakon semesta (gebyaring hurip).

Ilustrasinya seperti ini " seorang guru dengan jiwa pamomong atau pencapaian titik tolak causa prima (sumber kehidupan), dia memiliki beberapa murid dalam satu kelas ajarnya, namun karena mengetahui dua konteks dualisme (depan layar dan belakang layar) konteks depan layar adalah mirip panggung drama, berhubungan dengan niat dan ambisi manusiawi misal "seseorang memiliki niat untuk mencerdaskan murid-murid atau keseluruhan kelas yang dijadikan misi dan ambisi untuk suatu visi" ini garis manusiawi kalayak umum.

Sedangkan dibelakang/balik layar adalah "kasunyatan/ alur semesta yang pasti/takdir/qodrat/iradat/konteks naskah-naskah Sang Pencipta yang tak bisa dipungkiri".

Misalnya "dalam kelas tadi dari keseluruhan murid-murid tidak semuanya memiliki DNA yg sama, ada yang memiliki tingkat IQ rendah, sedang, dan tinggi, dan setiap person/murid akan berkembang dengan qodrat iramanya masing-masing mulai dari cetak biru yang dimiliki untuk menangkap dan melakoni takdirnya masing dengan tepat guna dan harmonis.

Lalu seorang guru tadi akan berperan cantik untuk mengemas dualisme tadi dengan baik dia akan tetap menuangkan ambisi dan niatnya untuk mengajar murid agar mencari cerdas, namun juga bersahaja dengan menyampaikan wahyu-wahyu yang diajarkan dengan teori dasar fakta (metode ajar yang dipakai manusia) sebagai sebab akibat bahwa setiap person akan mencapai kecerdasan pribadi sesuai jatah takdir semesta, tanpa memaksa dan mengungkapkan naskah balik layarnya walaupun dia tahu misal ada seseorang murid yg memiliki kapabilitas tingkat IQ tinggi (berbobot) walau tanpa diajaripun dia akan berkembang cerdas oleh alur pasti semesta.

Namun disini dia berbohong untuk keharmonisan tadi misal berkata seperti ini kepada murid lain (IQ sedang dan rendah) "lihatlah kamu harus tetap konsisten belajar dengan baik dan benar seperti si A (si IQ cerdas) agar kamu seperti dia dan tetap bersahaja pada setiap apa yang kamu temui dalam proses itu".

Disini saya menangkap esensi dari jiwa pamomong dia tdk sekedar memuja aplikasi science namun juga Iman pada Sang Causa Prima, atau (ngerti sakdurunge winarah/ tau kejadian sebelum terjadi/ mampu meretas dimensi ruang waktu) namun dia tidak mengatakan itu pada kalayak awam/umum namun berbohong dari konteks tersebut dan bermain cantik untuk menyampaikan hal-hal yang core itu dengan menciptakan "sanepa/ilustrasi lain utk mengantarkan seseorang melakoni takdirnya sendiri-sendiri dengan sebab akibat yang dituliskan Semesta".

Esensi lain adalah sejatinya hidup yang harmonis adalah mengantarkan ambisi manusia dengan niat baik lalu menyesuaikan dengan alur pasti semesta, dan inilah yang dikatakan pas/manut sakmestine tidak ngurangi qodrat dan melebihi qodrat damai dengan semesta.

Dan ini yang saya tangkap dari Tokoh-tokoh prana kususnya orang jawa dia selaku berkata misal ada orang yang bertindak diluar pakem manusia (kejahatan) ," yobene kui tanah isen2e jagad gumelar gawe imbangane lakon jagad ; biarkan saja dia juga bagian dari lakon semesta, tanpa dia dunia tak seimbang". Tidak lantas memaksakan kehendak seperti manusia science dan fana dia akan mengatakan sesuai ambisinya seperti ini "dia harus segera dirubah dia itu bertindak jahat tdk manusiawi banget, atau dia harus dihukum, dibunuh, disingkirkan" atau apa gitu. Namun inilah realitas kasunyatan niat baik dan ambisius harus dijalani dengan iman dan ini pilihan atas pencapaian ...

Tunjung Dhimas.

TATANAN KEHIDUPAN BERBANGSA MENURUT PARA PENDIRI BANGSA

Panca Sila, sila ke 3 “Persatuan Indonesia” sedang terancam oleh penjajahan terselubung melalui agama. Panca Sila adalah hukum tertinggi dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, kemudian diurai dalam hukum ditingkat dibawahnya yaitu UUD 45, UU, PP, Keppres, dstnya, semuanya tidak boleh bertentangan dengan Panca Sila. Indonesia bukan negara agama, oleh karena itu apabila ada ayat2 kitab suci agama apapun yang tidak selaras hingga bertentangan dengan Hukum Negara, maka ayat2 tersebut wajib hukumnya untuk tidak diberlakukan di bumi Nusantara ini.
Kita hayati kembali tatanan kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat menurut para pendiri bangsa berikut ini.

Bung Karno, tanggal 1 Juni 45:
“ .... segenap rakyat hendaknya berTuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada egoisme agama. Marilah kita amalkan agama dengan cara berkeadaban. .... keTuhanan yang berkebudayaan, berbudi pekerti luhur dan yang hormat menghormati ssl”.
Bung Hatta, pidato di Sanyokaigi:
“ .... kita akan mendirikan negara modern diatas dasar perpisahan antara urusan negara dengan urusan agama. Kalau urusan agama juga dipegang oleh negara, maka agama akan menjadi perkakas negara. Urusan negara adalah urusan kita semua, urusan agama Islam adalah urusan masyarakat Islam semata!”
Mr Soepomo:
“ Dalam negara Indonesia dianjurkan agar semua Warga Negara cinta dan ikhlas berbakti kepada tanah air. Setiap waktu taat dan ingat kepada Tuhan sebagai dasar moral dari negara nasional yang bersatu”
Liem Koen Hian:
“... dasar negara yang merdeka ialah hati manusia. Jika hati manusia baik akan melahirkan pikiran dan buah yang baik. Hati yang baik adalah hati yang jujur dan cinta semua orang sebagai bangsanya”.
Wiranata Kusuma:
“.... supaya dalam zaman ini lahir negara Indonesia dimana manusia dapat hidup sentausa menuju derajat kemanusiaan yang sempurna, dapat mengatasi se-baik2nya segala hal mengenai kehidupan se-hari2”.

Bangsa ini bangsa besar, tanah ini tanah surga, kecintaanku pada tanah ini adalah anugerah Tuhan, bagiku tak mungkin ada bangsa lain yang akan melindungi bangsa ini tanpa pamrih, kecuali aku dan kita, mari saudaraku jika engkau merasa dimuntahkan dari rahim vagina ibumu dan tetes darah menjadi saksi akan pribadimu di tanah surga ini bangkit dan bawa tangismu untuk mengembalikan dan menjaga tanah ini, tak ada yang lain selain kita, ketika kita mati  

Mungkin ini salah satu pertanggung jawaban yang akan diminta selain, ego perebutan kekuasaan, agama, keyakinan, dan komodity apapun, aku butuh kesadaran dan kasihmu, dengan keberagaman kita menyatu, dan ingat keberagaman bukan harus di seragamkan, jangan biarkan Sang negara raksasa mengebiri dan memecah belah kesatuan bangsa ini,

 Ingat... !!! walau aku tak berarti  memaksamu oleh isue paham kiri atau apapun ingat kejayaan bangsa ini pernah menjadi pusaka di dunia, kasihmu ya hanya kasih murnimu dan kita yang mampu memangkas tirai-tirai terselubung dibalik mercusuar tirani, lalu ketika mati kita telah berarti ...

Saya pribumi, saya cina, saya muslim, saya nasrani, saya penghayat kepercayaan, saya budha, saya hindu, saya keturunan, saya tak punya agama, tanah ini diijinkan diinjak oleh perbedaan, tidak ada etnis, sara, dan diskriminasi, berbaur dan berwarna dengan budaya seperti satuan dan kesatuan Garuda dan tempatnya bertengger diatas keberagaman, kebersamaan, dan persatuan,

hei tampangkan dirimu individu pemecah belah ?? Dan tunjukan padaku fakta sejarah bahwa kita semua majemuk, kita diciptakan oleh perbedaan namun kita adalah kelengkapan, tak ada tirani dengan alasan apapun jika tertuju untuk primordialisme, kami melawan ketidakadilan karena itu tidak bisa dibenarkan !!!,

hei para pemecah belah pergilah engkau jika hanya mengotori tanah ini, racun-racun dipikiran dan mulutmu adalah musuh daripada kami, kami tidak takut kami akan tetap bersatu untuk pembangunan bangsa, tanah, dan negara ini bahkan seberapa hebat lecutan hujatanmu yang seakan menyamai Sang Pencipta Perbedaan itu sendiri, karena kami dilahirkan untuk saling menopang dari setiap kami, kami satu tumpah darah..., kami satu wadah, kami satu bahasa, kami satu kesatuan kami adalah INDONESIA.... MERDEKAAA

BINNEKA TUNGGAL EKA adalah payung kami dalam kesatuan ....

(By: Tunjung Dhimas Bintoro)

KEJAWEN, ISLAM DAN AGAMA

Kejawen adalah kata bentukan yang berasal dari kata ke+jawi+an, dan diucapkan Kejawen. Dalam kamus bahasa Jawa Kuna, entri Kejawen berarti menjadi orang Jawa atau ke Jawa-jawa an (menyerupai orang Jawa). Sedangkan kata Jawi itu sendiri dalam kamus bahasa Jawa baru berarti kata halus (krama) dari kata Jawa, yang artinya orang atau bahasa Jawa.

Meskipun tidak ada istilah kejawen (sebagaimana dipahami orang-orang selama ini) dalam berbagai kamus Jawa, namun sudah menjadi pendapat umum bahwa Kejawen adalah sebuah ajaran/pengetahuan tentang olah batin yang bersumber dari ajaran-ajaran para leluhur orang Jawa.

Berdasarkan hasil studi karya seni sastra Jawa abad XVIII yang dilakukan oleh beberapa peneliti seperti Zoetmulder (Manunggaling Kawula Gusti, 1995), Simuh (Mistik Islam Kejawen, 1988), dan Niels Mulder (1985), Kejawen merupakan perkawinan tradisi Islam dengan Hindu – Buddha Jawa. Ajaran Kejawen itu sendiri tidaklah statis, tetapi terus menerus reseptif terhadap ajaran agama apapun yang masuk ke lingkungan keraton-keraton Jawa dan Sunda sejak abad XVI.

Islam sendiri, bila di telusuri dari sumbernya yang sah – Alqur’an- merupakan Din yang bermakna kedamaian. Islam adalah Din, bukan religi. Din adalah jalan hidup (yang dalam ajaran Islam berasal dari Allah Swt), sedangkan religi adalah tata cara ritual. Dalam perjalanannya, Din Islam ini terpecah menjadi religi-religi, terpecah menjadi puluhan golongan, diantaranya adalah Sunni, Syi’ah dan Wahabiyah. Sedangkan Sunni terbagi lagi menjadi beberapa madzhab besar seperti Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah.

Kata Agama, sebenarnya di mata saya kurang tepat bilamana di tempatkan di depan kata Hindu, Buddha, Kristen/Katholik, Islam, Sikh dan lain sebagainya. Kata agama dalam bahasa Jawa Kuna merupakan bentukan dari a (tidak) + gama (kacau), yang berarti aturan, tuntunan, yang ditetapkan oleh Negara/Kerajaan agar teratur dan tidak kacau. jadi semestinya, orang yang beragama adalah orang yang mematuhi aturan, mematuhi hukum dan undang-undang Negara. Oleh karenanya, jika dilihat dari arti kata agama dandin itu sendiri, sungguh itu tidak sesuai di mata saya, karena seperti yang saya tulis sebelumnya di atas, din adalah sebuah jalan hidup dari Allah Swt, dan bukan aturan/undang-undang Negara. Oleh karena itu juga, di Nusantara dulu tidak dikenal istilah Agama Hindhu, Agama Buddha. Dalam khazanah budaya Jawa dulu, Hindu dan Buddha disebut dharma, yang artinya kewajiban, tugas hidup, kebenaran. Namun dalam kamus Jawa Kuna, entri kata Hindu tidak ada, karena dharma yang masuk ke Nusantara pada zaman dahulu adalahdharma Syiwa, dharma Wisnu dan dharma Buddha. Bahkan dharma-dharma yang masuk ke kepulauan Nusantara itupun mengalami penyesuaian diri setelah berinteraksi dengan dharmaasli Nusantara.

Disitulah maka jaman dahulu ada semboyan “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa”, berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada kebenaran yang mendua. Semboyan yang terkenal pada jaman Majapahit ini menggambarkan, bahwa apapun dharma orang tersebut, mendapatkan hak dan perlakuan yang sama dari Negara/Kerajaan.

Keadaan tersebut menjadi berubah ketika berdiri Kerajaan Demak Bintara yang menggunakandharma Islam menjadi undang-undang di kerajaan tersebut. Islam tidak lagi disamakan dengan dharma-dharma yang lain. Dengan kata lain, dengan Islam diangkat sebagai undang-undang negara, maka gugurlah semboyan kebinekaan tersebut. Pluralisme yang menjadi tonggak kehidupan yang berlain-lainan dharmanya itu sirna. Sebab, semua warga negara harus mematuhi undang-undang negara, sedangkan yang dijadikan undang-undang itu adalah “Islam”.

Setiap warga negara Kesultanan Demak diwajibkan untuk mengikuti agama raja, agama ageming aji, agama adalah nilai-nilai yang digunakan oleh raja. Oleh karena itu, terjadilah penaklukan -termasuk konversi dharma yang dipeluk warganya- oleh Kesultanan Demak terhadap kadipaten-kadipaten yang masih setia kepada Majapahit. Sistem penaklukandharma ini di kemudian hari dilanjutkan oleh Belanda ketika menjajah Kep. Nusantara. Bahkan Belandalah yang menempatkan ulama-ulama dan aliran dari Timur Tengah di kerajaan-kerajaan di Nusantara yang telah dikuasainya. Akibatnya, terjadilah penaklukan dan pemberantasan oleh aliran yang baru masuk terhadap aliran yang sudah mapan di suatu kerajaan, misalnya pemusnahan pengikut Hamzah Fansuri di Aceh oleh kelompok Nuruddin ar-Raniri, pemberantasan pengikut Syamsyuddin Sumatrani dan pelaku dharma tradisional oleh kaum Wahabi di Sumatra Barat, dan lain-lainnya.

Sedangkan Kejawen sendiri, dari awal senantiasa bersifat reseptif, bisa menerima apapun yang masuk ke kep. Nusantara ini, dan itu tampak jelas dari ritual-ritual yang dilakukan penganut dharma-dharma yang ada di Indonesia saat ini, di antaranya acara-acara selamatan, mitoni, patangpuluhdinanan, nyatus, nyewu dlsb. Sehingga di mata saya, Kejawen bukanlah sinkretisme dari dharma-dharma yang masuk ke kep. Nusantara, namun justru sebaliknya, dharma-dharma yang masuk ke kepulauan Nusantara itulah yang menyesuaikan diri dengan Kejawen,,dengan kondisi Nusantara pada saat itu.

Kebudayaan spiritual Jawa yang disebut Kejawen, dalam pandangan saya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

Pertama, percaya bahwa hidup di dunia ini merupakan titah dari Tuhan Yang Mahakuasa, hingga selalu mengolah rasa, mengolah batin untuk mencapai kesempurnaan hidup, meruhi sangkan paraning dumadi. Meruhi sendiri, bukan hanya sekedar mendengar cerita dari orang lain atau kabar dari orang lain yang belum jelas kebenarannya.

Kedua, orang Jawa juga percaya adanya kehidupan lain di luar kehidupan di dunia ini, hal-hal gaib yang berada di luar diri.

Ketiga, orang-orang Kejawen percaya dan sangat menghargai arwah para  leluhur, sehingga sering dalam waktu-waktu tertentu mengadakan ritual-ritual khusus dalam rangka menghormati dan menghargai para leluhur.

Dari situlah awalnya, hingga kemudian muncul istilah nrima ing pandum, menerima kehendakNya, setelah sebelumnya menemukan sendiri pandum tersebut. Jadi kata nrima ing pandum ini sebenarnya bersifat aktif progresif, bukan pasif. Aktif progresif, menemukan dahulu pandumnya, jika memang sudah ketemu dan pandum tersebut memang menunjukkan demikian, barulah mau nrima.

Selain itu, ada inti ajaran Kejawen adalah hamemayu hayuning bawana, dan ajaran ini telah dimuat dalam Kakawin Arjuna Wiwaha (Mpu Kanwa, 1032). Menjelaskan ajaran ini, Mpu Kanwa menggambarkan tugas pimpinan adalah untuk berbuat jasa memperbaiki dan memakmurkan dunia seperti dinyatakan dalam Pupuh V bait 4-5. Sunan Pakubuwana IX (1861 – 1893) menggubah bait tersebut dalam Serat Wiwaha Jarwa menjadi “amayu jagad puniki kang parahita, tegesé parahita nenggih angécani manahing lyan wong sanagari puniki”. (Melindungi dunia ini dan menjaga kelestarian parahita, arti parahita ialah menyenangkan hati orang lain di seluruh negeri ini.)

Tugas hidup amemayu hayuning bawana oleh Ki Ageng Suryamentaram dan Ki Hajar Dewantara dikembangkan menjadi mahayu hayuning sarira, mahayu hayuning bangsa, mahayu hayuning bawana (memelihara dan melindungi keselamatan pribadi, bangsa, dan dunia). — di Kartosuro-Delanggu,Solo.Jawa Tengah.

(Dikutip dari sintasi buku karya Ki ngebei Ronggowarsito)

By: Tunjung Dhimas

Mengadaptasikan Diri Dalam Setiap Moment

Jaga dirimu sendiri karena ia adalah yang paling berharga yang kau miliki, orang lain tak bertanggung jawab atas penderitaan dan sukacitamu, dan itu bukan salah dari mereka !!, lalu berikan ruang kosong pada seseorang, karena hakikatnya setiap orang membutuhkan ruang kosong itu, beberapa orang butuh diakui, dipuji, namun beberapa dari mereka butuh ketenangan, sendiri, atau ruang kosong ini. Tak ada satu cara yang ditetapkan untuk menerapkan itu pada semua orang. Ketika engkau ditemukan dengan seseorang dan memutuskan untuk menjalin hubungan, janganlah merubah karakter daripada mereka, sesungguhnya dalam hubungan kitalah yang harus mengadaptasikan diri kita pada mereka, karena tututan kita adalah sumber ketegangan dan jauh dari kesukacitaan kita. Bagaimana anda menemukan bistik dan roti tar jika anda datang di MC Donald, tentunya tidak ada disana, sama halnya anda mengharapkan sesuatu dari seseorang yang jelas-jelas mereka tidak mempunyai apa yang anda harapkan !! Lalu anda kecewa padanya dan berprasangka buruk padanya padahal andalah yang salah memilih dan mengambil keputusan. Dan bagi saya hubungan-hubungan adalah soal belajar, dalam hubungan percintaan picisan kita belajar menjadi satu, dalam keluarga kita belajar bersama, dalam bisnis belajar bekerja sama, dan dalam persahabatan kita belajar berbagi satu sama lain.

Cuplikan beberapa coretan novelku

By : Tunjung Dhimas

Jalan Sutra

Cinta ini kupendam dalam hingga tak beraturan. Membuat semuanya serba berbenturan. Aku menyadari cinta pernah membuatku menjadi pemberontak...